Forum Dosen Indonesia

Merupakan organisasi yang didirikan tanggal 24 Agustus 2013, bersifat independen yang tidak terikat langsung dengan institusi anggotanya dan berbasis teknologi informasi. Didirikan dengan maksud melakukan advokasi untuk tujuan pengembangan kualitas dosen dan pendidikan tinggi Indonesia.

Forum Dosen Indonesia di Internet

1) Kuning / Emas : Pendidikan, mencetak generasi emas Indonesia, 2) Biru Langit : Penelitian, seperti langit tanpa batas yg dapat dicapai sebatas kekuatan manusia, 3) Hijau : Pengabdian masyarakat yang lebih bersifat kerelawanan, bekerja demi amal, 4) Merah dan putih : Indonesia.

ORMAS Dosen Indonesia

Berawal dari Grup Dosen Indonesia di Facebook menjadi ORMAS Dosen

Tampilkan postingan dengan label dosen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dosen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Januari 2020

Studi Kesultanan Jambi, Irmawati Sagala Raih Doktor dari UIN Syarif Hidayatullah


Dr. Irmawati Sagala
Ketua Umum DPP Forum Dosen Indonesia Irmawati Sagala meraih gelar doktor dalam bidang ilmu agama dan politik pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan (13/1).

Irma menyelesaikan doktornya dengan disertasi berjudul "Islam dan Adat dalam Sistem Pemerintahan Jambi masa Kesultanan dan Kolonial pada tahun 1855-1945" di bawah promotor Prof. M. Atho Muzhar dan copromotor Prof. Iik Arifin Mansurnoor.

Hadir dalam promosi doktor tersebut Rektor UIN Jambi Prof. Su'aidi Asy'ari dan kolega dari FDI.

Sepuluh hari sebelumnya, pengurus FDI Bidang Pendidikan dan Pengajaran Dr. Yanti Mulia Roza dari IAIN Batusangkar juga menamatkan S3 dari UIN Syahid.

Dalam menulis disertasinya, Irma Sagala tidak hanya berkutat pada naskah primer di dalam negeri. Di sela-sela program doktor tersebut, perempuan penuh semangat tersebut juga melanjutkan studi master di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Prancis.

Setahun menjelang kelulusannya, lulusan sarjana dari Universitas Andalas, Padang tersebut juga kembali ke Prancis, Belanda, dan beberapa negara Eropa lainnya untuk menuntaskan disertasinya.

Irma Sagala saat ujian terbuka

Suasana ujian promosi doktor Irmawati Sagala
Kegigihan Irma mengundang apresiasi dan inspirasi dari berbagai pihak. Hamli Syaifullah, pengajar Universitas Muhammadiyah Jakarta yang juga mahasiswa program doktor di kampus yang sama menulis di akun Facebooknya bahwa ia sangat termotivasi untuk mencari data dan menulis lebih serius.

Di FDI, Irma merupakan salah seorang founder lembaga ini. Di masa kepemimpinan Gatut Rubiono, ia menjabat sebagai Sekjen. Bahkan, di sela-sela menulis disertasi ia masih sempat mengajar Bahasa Prancis di FDI dengan penuh antusias.

Dua bulan menjelang promosi doktornya, Jurnal Analisis Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia (JAS-PT) yang diterbitkan oleh FDI mendapatkan sertifikat sebagai jurnal terakreditasi Sinta 5 yang ditandatangani oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan RISTEKDIKTI Dr. Muhammad Dimyati.

Tahniah untuk Doktor Irmawati Sagala! [ys]

Selasa, 31 Juli 2018

BERTANDANG KE PERKAMPUNGAN PEWARIS TRAH SUKU LAUT: Menapak Asa di Garis Pantai Indonesia

Oleh: Irmawati Sagala (UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi)

Pernahkah anda mengenal Suku Laut atau Orang Laut sebagai salah satu suku tua yang hidup di bumi maritim nusantara ini? Dahulunya, suku ini hidup di perahu-perahu sepanjang perairan nusantara dengan kemahiran navigasi dan pengenalan laut yang mumpuni. Pada zaman kesultanan, mereka termasuk “penguasa” di sepanjang jalur perdagangan Selat Malaka, ada yang merompak, tapi kadang menjadi sekutu penting sultan-sultan dalam berbagai keperluan. Namun itu cerita lama. Sekarang, pewaris trah Suku Laut umumnya sudah hidup menetap di tepi pantai atau daerah muara sungai: hidup berdampingan bersama suku-suku lain dengan beberapa warisan tradisi yang masih terpelihara. Di antara suku ini sekarang ada yang dikenal dengan nama Suku Bajo yang umumnya mendiami daerah Sulawesi serta Suku Duano di Jambi, Riau dan Kepulauan Riau.
Ada banyak hal menarik untuk dikenali dalam kehidupan masyarakat Suku Laut, terutama terkait dengan penguatan eksistensi kemaritiman Indonesia. Sebagai bentuk kepedulian terhadap wawasan kemaritiman, di akhir tahun ini Forum Dosen Indonesia (FDI) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Sorong akan menggelar konferensi internasional kedua yang bertema maritim, setelah sebelumnya diselenggarakan di Makassar akhir tahun lalu. Menyambut event besar yang akan dihelat di Sorong, Papua Barat ini, Forum Dosen Indonesia (FDI) wilayah Jambi melakukan penelitian kolaboratif, dengan dana mandiri, terkait kehidupan Suku Duano di Desa Tanjung Pasir Kecamatan Tanah Merah, Riau. Sebanyak 15 orang dosen dari beberapa perguruan tinggi di Jambi berangkat ke lokasi pada tanggal 29 Juni - 1 Juli 2018 lalu. Sebenarnya ini adalah perjalanan kedua kami, setelah sebelumnya mengunjungi perkampungan masyarakat Duano di Kuala Tunggal, Jambi.  

Tim sebelum keberangkatan dari Kota Jambi
Terlambat 1 jam dari kesepakatan, tim baru berangkat dari Kota Jambi pada jam 6 pagi, dengan mengendarai 3 mobil. Tiga jam kemudian kami tiba di pelabuhan Kuala Tungkal, Jambi. Setelah menitipkan mobil di rumah kerabat dan istirahat seperlunya, kami menaiki speedboat yang membawa ke Kuala Enok, Riau, yang menjadi basecamp tim. Perjalanan yang dimulai pada jam 11 itu memakan waktu sekitar 45 menit, menyusuri tepian Selat Malaka. Tentu saja speedboat yang beroperasi tidak seperti yang ada di film-film. Moda transportasi ini dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memiliki badan mirip boat kecil pada umumnya, dengan tempat duduk kayu bersusun layaknya angkot, namun kecepatannya seperti speedboat asli. Tidak hanya orang dan bagasi kecil, barang-barang berat juga dimuat di dalamnya seperti jerigen berisi bahan bakar, perkakas rumah, bahkan sepeda motor.

Dermaga Kuala Tungkal dan jajaran speedboat




Menaiki kendaraan laut ini disarankan untuk duduk di belakang agar hempasan ombak tak terlalu terasa. Jika duduk di depan, maka bersiap-siaplah terguncang sepanjang pelayaran seperti sedang naik mobil di jalan berlubang-lubang parah. Tapi, inilah seninya berkendara speedboat, uji adrenalin dan ketahanan fisik. Untuk perjalanan ini tiap orang ditarik tarif 50 ribu rupiah. Sayang sekali tidak terlihat adanya persediaan pelampung yang memadai untuk antisipasi musibah. Karena itu, jika ingin mengikuti prosedur keamanan, maka bawalah pelampung pribadi jika akan bertandang ke daerah ini.






Uji adrenalin sebenarnya telah dimulai saat menuruni dermaga menaiki speedboat yang tertambat jauh di tiang-tiang dermaga karena air sedang surut. Perlahan-lahan anggota tim, yang sebagian besar baru pertama kali bepergian ke daerah pesisir itu, menuruni anak tangga kayu lalu berjalan di sela-sela speedboat yang berjajar. Meski diliputi cemas, suasana tim tetap ceria, khas gaya peneliti-peneliti muda dan atau berjiwa muda. Kecepatan beradaptasi para peneliti dengan lingkungan segara tampak di sini. Mulai dari menggunakan toilet darurat, panjat-memanjat, hingga membuang jauh-jauh ingatan bahwa diri tak sedikitpun bisa berenang. Kalau sudah berada di lapangan, pikiran hanya satu: nikmati semua yang ditemui dan pulanglah dengan membawa data memadai. Sebuah kalimat sederhana yang membutuhkan prjuangan untuk mewujudkannya.
Tengah hari, rombongan tiba di rumah kerabat salah seorang tim, langsung disambut dengan hidangan super istimewa, khas masakan pesisir. Sungguh tanpa basa-basi tim yang memang sebagian tak sempat sarapan dari pagi, segera menyantap makanan yang terhidang. Ada ikan, udang, sotong dan sayuran. Luar biasa segar dan nikmat untuk ukuran orang-orang daratan yang jarang betemu makanan laut segar. Seperti sudah menyiapkan wadah yang memadai, sajian penutup pun dilahap dengan seksama. Tampaknya, semangat makan dan meneliti yang dimiliki anggota tim, hanya beda-beda tipis. Untuk semua ini, tim sangat berterima kasih atas sambutan yang sangat hangat dari tuan rumah. Terbayar lunas lelah di perjalanan, dan kantuk pun segera datang merayap. Namun, tim tidak memiliki banyak waktu untuk istirahat, sebab sehabis waktu Ashar sudah diagendakan untuk berbincang dengan salah seorang tokoh Suku Duano setempat.





Diskusi sore itu berjalan penuh semangat hingga menjelang Maghrib. Selain paparan dari narasumber dan diskusi, tim juga merencanakan perjalanan ke Desa Tanjung Pasir yang akan dilakukan pada hari kedua. Diskusi masih dilanjutkan pada malam hari untuk mematangkan desain kegiatan lapangan. Cukup menguras energi. Namun tim kembali patut bersyukur bahwa dukungan tuan rumah sangat luar biasa. Minuman hangat dan camilan lezat tersaji setiap sesinya. Malam pun merangkak naik menyelimuti bumi Kuala Enok. Satu per satu tim mulai tertidur. Tinggallah beberapa orang yang sembari memejamkan mata, mengantisipasi diri agar tidak digigit agas, hewan kecil yang menggigit kulit seperti nyamuk.



Sabtu pagi-pagi, tim sudah siap berangkat ke Desa Tanjung Pasir, yang bisa dicapai dengan menaiki boat alias pompong selama 10 menit. Perjalanan tidak se-heroik kemarin karena perairan yang dilalui hanya menyeberang sungai, tanpa ombak, dan sebentar saja. Karena sudah mulai beradaptasi, kali ini tim sudah bisa bersenda gurau saat naik-turun boat. Suasana kampung khasnya daerah pesisir segera menyambut dengan ramah. Rumah panggung berjajar di tepi jalan desa. Di depan rumah dan tepi-tepi jalan terlihat jemuran lidi nipah, produk lain yang merupakan penghasilan warga selain tangkapan laut. Sesekali terlihat pula jemuran terasi atau ikan asin. Sepanjang jalan, penduduk menyapa dengan ramah. Sarana umum cukup memadai, bahkan Desa juga memiliki sebuah masjid besar yang nyaman untuk kehidupan pesisir pantai. Bahkan, kegiatan nonton bareng piala dunia pun digelar juga oleh warga, dengan menggonakan proyektor. 

Tim di atas boat penyeberangan
Dermaga Desa
Kompleks perkantoran





Produk terasi masyarakat

Tim belajar meraut lidi nipah dan membuat rokok daun nipah

Belajar memotong daun nipah dari pelepah

Menjemur ikan memanfaatkan berbagai fasilitas, tak ketinggalan di parabola :)

Layar proyektor untuk nonton bareng piala dunia, di antara jemuran lidi nipah

Suasana shalat di masjid desa


Toilet masjid
Sesampainya di seberang, tim langsung menuju rumah kepala desa yang biasa disebut masyarakat dengan Pak Wali. Kepala Desa, Kamaluddin, S.H, dan perangkat desa lainnya menyambut tim dengan ramah dan memberikan informasi terkait yang dibutuhkan tim. Setelah itu, tim berpencar sesuai dengan tema penelitian masing-masing, mencari data yang dibutuhkan. Ada yang wawancara, observasi, pengukuran, juga mengambil sampel-sampel yang akan diperiksa di labor. Sepanjang hari tim bekerja. Sayang sekali, kali ini tim tidak sempat ikut manongkah, menangkap kerang dengan metode tradisional khas Suku Duano. Sore hari tim kembali ke Kuala Enok, yang segera dilanjutkan dengan makan sore di pesta kerabat anggota tim lainnya. Sedikit evaluasi dilakukan malam harinya dan dilanjutkan dengan berkemas sebab besok pagi harus segera bertolak kembali ke Kota Jambi. Jadwal perjalanan harus dilakukan pagi hari agar tak bertarung dengan ombak besar saat menyeberang dengan speedboat.

Pak Wali, berbaju kaos merah muda, berdiskusi bersama tim


Foto bersama di depan rumah Pak Wali


Foto bersama di dermaga desa diapit papah tongkah

Lewat tengah hari tim sudah berada kembali di Kota Jambi. Pemeriksaan lanjut, pengolahan data, dan inventarisasi kekurangan data untuk penelitian lanjutan segera menanti. Sebuah proses sedang dijalani dengan kesungguhan, semoga hasilnya nanti memuaskan dahaga keilmuan dan bermanfaat untuk khalayak. Beginilah kami dalam Forum Dosen Indonesia (FDI) menjalani kebersamaan. #
                     

Jumat, 24 Maret 2017

WORKSHOP PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN OLEH FDI SULSEL DAN STIE AMKOP


Sejumlah dosen mengikuti Workshop Penulisan Proposal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sejak 21-22 Maret 2017. Pelatihan yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AMKOP Makassar ini diharapkan bisa meningkatkan minat menulis karya ilmiah di kalangan dosen. Para dosen menerima materi dari anggota Forum Dosen Indonesia (FDI) DPD Sulawesi Selatan, Andi Dirpan dan Marhamah Nadir.
"Kegiatan ini sengaja kami laksanakan untuk dosen agar minat mereka untuk meneliti dan menulis lebih meningkat. Apalagi teman teman FDI ikut memberi support untuk itu," ujar Asistent Direktur II Program Pascasarjana STIE AMKOP, Dr Gunawan Bata Ilyas, Rabu (22/3/2017). adapun salah satu materi yang dipaparkan yakni pengenalan aplikasi berbasis online bernama Mendeley, sebuah program untuk memudahkan proses penulisan daftar pustaka, kutipan literatur atau referensi tulisan ilmiah dari penelitian yang sudah ada. p
"Aplikasi Mendeley sangat berguna bagi peneliti yang ingin menulis hasil penelitiannya baik untuk daftar pustaka maupun untuk menghindari plagiarisme tulisan ilmiah," ujar Andi Dirpan, Dosen Ilmu Pertanian Universitas Hasanuddin itu. Menurutnya, saat ini dosen telah banyak dituntut untuk menulis kemudian mempublikasikan hasil penelitiannya. Dengan aplikasi ini, kata dia, maka proses penulisan referensi dan literatur tidak dilakukan secara manual lagi. 
Sementara itu, Marhamah Nadir yang membawakan materi teknik penulisan proposal itu meminta kepada para dosen agar tidak menghabiskan waktu hanya untuk mengajar. Namun harus dibarengi dengan melakukan penelitian-penelitian? dan tidak hentihentinya untuk menulis. "Jangan takut dan ragu, banyak kok sumber pendanaan yang bisa kita manfaatkan, baik oleh dosen PTN maupun PTS," kata Marhamah Nadir yang juga ketua II FDI Sulsel.  


sumber: edukasi.rakyatku.com

Rabu, 22 Maret 2017

Pelatihan Penyusunan Proposal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Pada hari Selasa tanggal 21 Maret 2017 Forum Dosen Indonesia DPD-Sul-Bar mengadakan pelatihan “Penyusunan Proposal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat” yang bertempat di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Marendeng Majene. Narasumber yang diundang adalah bapak Dr. Tenriware, S.Pi., M.Si, merupakan reviewer penelitian desentralisasi DRP2M Ristek Dikti, dan juga Anggota Pengurus FDI DPD Sul-Bar. Pelatihan diikuti oleh dosen-dosen yang berasal dari beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada Di Sulawesi Barat, seperti Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR), STIKES Marendeng Majene, dan AKPER YPPP Wonomulyo.
Pada acara pembukaan, ketua FDI DPD Sul-Bar, Irfan AP, S.T., M.MT, memberikan sambutan mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh peserta dosen yang telah hadir, dan antusias menjadi anggota FDI DPD Sul-Bar. Selanjutnya, acara inti terdiri dari tiga sesi, pemaparan materi oleh narasumber, diskusi/tanya jawab dan coaching clinic. Ada beberapa poin penting yang disampaikan oleh Dr. Tenriware yaitu (1) hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mengusul proposal penelitian dan pengabdian masyarakat, (2)  tips dan cara menyusun proposal dengan baik, (3) bagaimana menginput data pada simlitabmas.ristekdikti.go.id, dan (4) Skema-skema penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Beliau mengatakan “biasakan membaca panduan pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat yang dirilis oleh Ristek Dikti sebelum menyusun proposal, jangan sampai ‘salah kamar’, karena hal dasar seperti inilah yang kadang mebuat proposal kita tidak lolos”. Artinya, sebelum menyusun proposal, kita harus melihat penelitian dan pengabdian yang akan kita laksanakan bisa masuk di skema mana, dan apakah syarat dan ketentuan pada skema tersebut sesuai dengan background kita.
Materi yang dipaparkan cukup menarik, seperti yang dikatakan oleh salah satu peserta pelatihan dari STIKES Marendeng, Immawanti. Hal ini juga terlihat pada sesi tanya jawab atau diskusi, banyak peserta yang merespon dan bertanya sehingga diskusi terlihat alot tapi menarik dan menambah pengetahuan baru terutama hal-hal dasar yang biasa terlupakan saat menyusun proposal. Diakhir acara, bapak Dr. Tenriware menyampaikan bahwa pendaftaran proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tahun anggaran 2017 akan dibuka tanggal 1 April mendatang. Dan beliau memberikan kesempatan kepada peserta Anggota FDI untuk bisa berdiskusi lebih lanjut dengan menujukkan proposal yang telah disusun untuk direview.
Semoga dengan adanya pelatihan ini, dapat meningkatkan pengetahuan dosen-dosen yang ada di Sulawesi Barat tentang penyusunan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat. Sehingga, jumlah pengusul dan proposal dosen yang lolos di tahun 2017 semakin meningkat.

Sabtu, 04 Maret 2017

Dosen Bukan Guru ? Ah.....

Sudah cukup lama aku tidak menengok warung diskusi induk, di komunitas dosen. Bukan masalah apa-apa, aku cuma merasa sedang butuh banyak energi untuk membarengi langkah-langkah ‘keluarga kecil’ menghantarkan lahirnya organisasi profesi. Warung induk ini sangat ramai dan sering mengalami ‘kebakaran’. Meskipun tugasku adalah termasuk menjadi tim pemadam, toh sekali dua aku sempat juga terbakar, bahkan kapan hari itu, menyengaja menjadi penyulut kebakaran (hehehee ....). Aku tahu, langkah itu pasti bakal mendapatkan jeweran dari para sesepuh. Hanya saja, hatiku kadang memang meronta melihat tingkah polah rekan sejawat yang menurutku sangat jauh dari citra seorang dosen. Citra seorang pendidik. Meski sampai titik ini aku sadar bahwa bagaimanapun aku juga belum mampu menampilkan citra pendidik (dosen) yang ‘semestinya’.
Ketika aku kembali menengok warung itu, ingatan tentang citra itu kembali mengusikku, khususnya ketika mulai ada bara api (lagi) dalam diskusi seputar sistem organisasi profesi yang barusan lahir itu. Di sinilah kusadari sepenuhnya bahwa fakta baru ambiguitas tampilan perilaku dosen saat ini, memang nyata. Tidak sekali dua kami menyuarakan kebencian dan alergi kronis terhadap makhluk bernama politik dengan segala segi dan variannya, tetapi kami menerapkan ‘politik’ itu dalam setiap sendi kehidupan masyarakat akademik, juga lengkap dengan segala sendinya. Kami bicara tentang budi pekerti, pendidikan karakter, keteladanan, tetapi ternyata itupun hanya pajangan dalam kurikulum dan buku-buku acuan di sudut-sudut lemari ruang kerja. Betapa mudahnya menuding, melempar fitnah, bersikap egois, menginjak teman, menghalalkan segala cara, hanya sekedar untuk mendapatkan pengukuhan eksistensi diri sebagai ‘orang penting’, kesejahteraan, dan kenyamanan. Betapa ringannya menepiskan hasil kerja keras sejawat yang dibangun di atas tetesan keringat, airmata dan darah, hanya karena tergiur kemolekan bayangan kekuasaan. Duh Gusti ....... !
Citra dosen sebagai pendidik, sebagai ‘guru’, yang ditanamkan ibuku dulu, pecah berkeping-keping. Ibuku adalah seorang guru SD, yang ‘hanya’ berpendidikan SGA (selevel SMA saat ini), yang telah mengabdikan hidupnya sebagai ‘akademisi’ secara nyaris sempurna. Kalau kutengok pangkat terakhirnya adalah golongan 4C, saat ini sudah nyaris setara dengan profesor. Toh dia hanya berakhir sebagai Kepala Sekolah di kecamatan kecil, mengajukan pensiun dini saat menyadari ketidakmampuannya memenuhi tuntutan perkembangan kualitas dunia pendidikan terhadap siswa SD. Tidak pernah mau menerima pengangkatan sebagai Penilik Sekolah, meskipun menjanjikan gaji yang menggiurkan, karena sadar tidak bakal mampu memperjuangkan nasib rekan-rekan guru sukwan di lingkungannya. Dan dia, cuma lulusan SGA.
Dosen, di mata ibuku, adalah guru. Maka aku sebagai dosen, wajib menampilkan diri, mencitrakan kepribadian yang wajib digugu lan ditiru. Pantas dipatuhi dan diteladani. Hari-hari pertamaku sebagai dosen adalah hari-hari penuh pesan, wejangan dan pitutur, tentang bagaimana bersikap dan mengusung kewajiban sebagai dosen. Bahwa dosen adalah orangtua bagi mahasiswanya, saudara bagi rekan kerjanya, sahabat bagi karyawan di lingkungannya, dan pelopor bagi masyarakat sekitarnya. Bahwa karena ‘siswa’-ku adalah mahasiswa dengan jadwal kuliah yang ‘tidak beraturan’, tidak seperti level pendidikan dasar dan menengah, maka aku harus bersedia meluangkan waktuku menerima ‘rengekan’ mahasiswaku kapan pun mereka muncul. Itulah yang membuat pintu rumahku terbuka 24 jam bagi siapapun yang bergelar ‘mahasiswa’.
Dengan predikat-predikat yang tersandang itu, kunci keberhasilan seorang pendidik terletak pada konsistensinya menjaga kesesuaian ucapan dan tindakannya. Ini, sangat sulit dilakukan, karena itu berarti harus siap menerima ‘kekalahan’ dari sisi pandang kalayak umum. Demi citranya sebagai benteng moral peradaban bangsa, pendidik harus mampu menahan diri tidak melakukan korupsi meskipun sangat tahu cara menghindari resikonya. Meskipun dikejar tuntutan kepangkatan, pendidik harus mampu menjaga kualitas karya yang menjadi syarat teraihnya pangkat tersebut. Meskipun bisa, pendidik sangat tabu menarik tambahan biaya pendidikan di luar yang semestinya dibayarkan siswanya. Itu semua contoh-contoh kecil yang lazim menjadi godaan bagi setiap pendidik dalam kehidupan profesinya sehari-hari, yang berdampak pada lambatnya peningkatan kesejahteraan kehidupannya dalam pandangan masyarakat, dari sisi pandang stabilitas perekonomian dan gengsi pergaulan. Itulah sumber slogan bahwa guru, pendidik, dosen, adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Meskipun, minimum, di mata ibuku, itu adalah ruh profesi, bukan sekedar slogan.
Lalu, kolega-kolegaku menyatakan bahwa dosen bukan guru, hanya karena isu remunerasi. Lalu, isu yang memercik dari kepingan uang ini menyebarkan virus-virus turunannya dalam bentuk kekuasaan, gemerlapnya tampuk pimpinan, peneguhan eksistensi diri, dan indahnya berlenggok di bawah sorotan ‘lampu mercuri’. Lalu, itu juga mengancam nyawa bayi organisasi yang disemai bertahun-tahun, oleh keluarga kecilku. Bayi yang diharapkan dapat menghantarkan bangsa ini menuju masa keemasan generasi penerus. Bayi yang dengan susah payah diajarkan makna kasih sayang dan kemurnian profesi pendidik. Bayi yang telah menjadi yatim sebelum lahir. Oh, no ......... :’(
Dosen bukan guru, karena dosen juga mengabdi dan meneliti. Dosen bukan guru, karena guru hanya mengajar semata. Dosen bukan guru, karena dosen bisa menjadi profesor. Tetapi profesor adalah guru besar. GURU BESAR ! Jadi, dosen bukan guru ? Ah ...........
Oleh : Nurida Finahari
Ketua Umum DPD Jawa Timur
Email : nfinahari@fdi.or.id

Agenda ke Depan

Agenda ke Depan