Jumat, 19 Februari 2016

Basa-basi dalam Komunikasi Bahasa Inggris

Oleh: Issy Yuliasri (Universitas Negeri Semarang)

Kita umumnya memiliki kepercayaan bahwa budaya kita adalah budaya yang ramah tamah dan banyak basa-basi, dan saya sepakat. Terutama pada masyarakat Jawa yang merupakan lingkungan hidup saya; pada masyarakat Jawa, memang tidak semua hal harus diungkapkan secara terus terang. Ketidakterusterangan dan basa-basi biasanya bertujuan untuk menjaga muka lawan bicara kita. Begitulah… tradisi tepa selira, menjaga muka, dan basa-basi sudah biasa dilakukan untuk menjaga harmoni dalam interaksi sehari-hari. Tentu saja kadar ‘kehalusan’ basa-basi itu sendiri bersifat relatif, dan berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Basa-basi pada masyarakat Jawa di daerah yang dekat dengan keraton tentu lebih njelimetdaripada masyarakat pesisiran. Sementara masyarakat pesisiran, seperti Tegal, cenderung lebih blak-blakan dan tidak terlalu banyak basa-basi. Bagaimana dengan tradisi Barat?Secara umum, masyarakat Barat lebih direct daripada masyarakat Indonesia. Bahkan ada pepatah yang menggambarkan budaya terus terang ini, yang berbunyi ‘say what you mean, and mean what you say’.  Dengan pemahaman bahwa masyarakat Barat lebih direct, sebagian dari kita lalu barangkali beranggapan bahwa dalam komunikasi sosial pun mereka cenderung direct dan tanpa basa-basi. Benarkah demikian?
Pendapat bahwa masyarakat Barat, dalam tulisan ini saya batasi masyarakat penutur jati Bahasa Inggris, tidak memiliki basa-basi, tidaklah benar.  Dalam interaksi sosial, banyak basa-basi dan etika yang perlu diikuti ketika berkomunikasi dengan bahasa Inggris, khususnya ketika melakukan interpersonal communication (berkomunikasi untuk tujuan menjaga hubungan baik antar pribadi). Komponen dalam percakapan pun lebih sophisticated daripada basa-basi dalam budaya tutur bahasa Indonesia.  Misalnya, dalam budaya bahasa Inggris percakapan terdiri dari bagian opening, pre-closing, dan closing yang mengandung banyak exchanges atau oper-operan tuturan yang kompleks. Sebagai contoh, permulaan percakapan (opening) bisa dilakukan dengan greeting seperti hello, (good) morning, hi, diikuti pertanyaan basa-basisemacam how are you? how’s life? How’s everything?atau how was your weekend? (ketika bertemu di hari Senin), how was your trip? (kepada seseorang yang baru tiba dari suatu perjalanan), how was your holiday? (sehabis liburan), atau how do you do? (kepada yang baru kenal/bertemu).  Sebagian ungkapan tersebut ada padanannya, namun sebagian lainnya tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.  Ini menunjukkan ‘kekayaan’ basa-basi dalam bahasa Inggris. Bahkan, untuk mengucapkan salam di kalangan terbatas antar lelaki, dalam lingkungan terbatas tertentu dalam suasana yang sangat tidak formal, misal di pub  atau di arena olah raga, ada ungkapan khusus bagi sesama lelaki, khususnya di Australia, yaitu ungkapan semacam ‘how’s it hanging?’. Ungkapan ini tentu tidak pernah diucapkan kepada wanita, karena kata ‘it’ dalam ungkapan tersebut memiliki konotasi genital lelaki, walau makna keseluruhan ungkapan adalah ‘apa kabar?’.  Lagi pula, ungkapan ini juga tidak patut diucapkan oleh/kepada kalangan terdidik.
Mengapa saya katakana bahwa ugkapan basa-basi pembuka percakapan dalam bahasa Inggris itu kaya? Karena, dalam bahasa Indonesia, sebagai padanan greeting, kita hanya punya ungkapan ‘selamat pagi/siang/sore/malam’ atau mungkin ‘assalamu’alaikum’ bagi sesama muslim. Bahkan,dengan teman yang sudah dekat kita biasanya tidak merasa perlu mengawali percakapan dengan mengucapkan salam.  Kita pun tidak biasanya meneruskan dengan basa-basi lanjutan semacam ‘bagaimana akhir minggumu?’, atau ‘bagaimana liburanmu?’, atau ‘bagaimana perjalanan anda tadi?’. Karena, kalaupun muncul, pertanyaan itu adalah pertanyaan informasi, yaitu pertanyaan yang memerlukan jawaban sesungguhnya dikarenakan penutur ingin tahu, karena perhatian.  Sedangkan dalam bahasa Inggris, pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari basa-basi, bukan pertanyaan yang genuine dan tidak memerlukan jawaban yang genuine pula.  Dengan demikian, pertanyaan ‘how are you?’ tidak perlu dijawab dengan penjelasan kondisi kesehatan kita, misal kita sedang mulas; walaupun kita sedang mulas, cukup jawab dengan ‘fine, thanks’ atau ‘not so bad, thanks’ dan sejenisnya.  Saya jadi teringat, di suatu presentasi di seminar internasional seorang dosen Pragmatics dari Australia mempresentasikan hasil penelitiannya tentang tindak tutur bahasa Inggris mahasiswa asing (dari negara non-penutur jati bahasa Inggris, termasuk Indonesia).  Dalam presentasinya antara lain digambarkan bagaimana seorang mahasiswa dari Indonesia ketika di kasir supermarketakan membayar dan ditanya ‘how are you?’ oleh kasir, menjawab dengan ‘I have a headache’.  Sementara si kasir, tidak berekspektasi mendengar jawaban yang tidak biasa (karena basa-basi ‘apa kabar’ merupakan prosedur standar rutinitas pelayanan), menimpalinya dengan jawaban ‘good!’…seolah-olah mensyukuri bahwa si mahasiswa sakit kepala (padahal karena tidak mendengar apa yang diucapkan si mahasiswa, dan karena lazimnya jawaban cukup ‘fine, thanks!’, atau ‘good, thanks!’ dan sejenisnya).  Ini tentunya merupakan contoh kecil saja dari kejadian lucu yang bisa terjadi karena tidak tahu basa-basi.
Kekayaan atau kompleksitas basa-basi dalam bahasa Inggris itu juga tercermin dari ungkapan yang lazimnya muncul dalam percakapan awal ketika berkenalan atau pertama kali bertemu dengan orang baru. Lazimnya ada ungkapan ‘how do you do?’ (semacam ‘hello’ dan tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia), atau ‘nice to meet you’, atau ‘it’s a pleasure meeting you’, atau ‘good to meet you’ (dalam suasanan yang tidak formal dan sangat akrab bisa juga cukup dengan ‘hi’), dan sejenisnya, yang dalam budaya tutur bahasa Indonesia tidak ada.  Dalambudaya kita, rasanya terlalu artificial dan tidak lazim bila kita berkenalan dengan seseorang lalu kita mengatakan ‘senang sekali berkenalan dengan Bapak’ dan sejenisnya.
Selain basa-basi mengawali percakapan atau opening, ada basa-basi pre-closing, yakni ketika menjelang mengakhiri percakapan. Contohnya, ketika akan mengakhiri percakapan dengan orang yang baru berkenalan tadi, biasanya ada basa-basi yang mengungkapkan bahwa kita tadi senang berkenalan dengan mitra tutur kita, dengan ungkapan seperti ‘it was nice meeting you’ dan sejenisnya. Perhatikan bahwa pada saat ini kita menggunakan ‘was’, sedangkan pada awal perkenalan kita menggunakan ‘is’ yang lazimnya disingkat atau dihilangkan bersama subjeknya (‘it’s nice meeting you’, atau ‘it’s nice to meet you’ atau ‘nice to meet you’). Bila percakapannya berlangsung dengan orang yang sudah kita kenal, basa-basi pre-closingnya antara lain seperti contoh berikut: ‘it was nice seeing you again’. ‘it was nice talking to you’ dan sejenisnya. Bedakan bahwa ketika pertama kali bertemu/berkenalan kita menggunakan kata ‘meet’ sedangkan bila kita sudah kenal kita menggunakan ‘see’, karena ‘meet’ di sini lebih bermakna ‘berkenalan’ sedangkan ‘see’ bermakna ‘berjumpa’.  Jadi, bila kita sedang asyik bercakap-cakap, lalu teringat bahwa kita harus segera berhenti bercakap-cakap karena ada acara lain, maka kita bisa mengatakan misalnya ‘it was nice meeting you, Dave, but I have to go’, atau ‘it was nice talking to you, John, but I have things to catch up’, dan sejenisnya. Serupa dengan contoh sebelumnya di atas, dalam budaya kita juga akan terasa aneh atau berlebihan apabila kita hendak mengakhiri suatu percakapan lalu mengucapkan ‘tadi senang sekali berkenalan dengan Anda’, atau ‘senang sekali jumpa denganmu lagi tadi ini’, dan seterusnya.Dalam budaya kita, basa-basi dalam pre-closingsangat minimal; tidak ada ucapan ‘senang tadi berbicara dengan Anda’ dan sejenisnya. Biasanya, kita akan langsung menyebutkan keperluan kita, misalnya ‘maaf saya ada acara lain’ dan sejenisnya. Saya teringat kejadian di tahun 1993 ketika di Australia. Salah satu host dari peserta pertukaran pemuda mengundang seluruh peserta pertukaran pemuda dari Indonesia yang berjumlah 26 orang untuk pesta barbeque. Selesai berpesta, sekitar jam 22.00 malam, mereka semua pulang, mengucapkan ‘thank you’ dan ‘goodbye’ dan…blas!!! semua pulang.  Tuan rumah yang asli Australia, bersama dengan tamu-tamu Australia lainnya, terbengong-bengong kaget. Mungkin karena kepergian pemuda-pemudi Indonesia ini terasa tiba-tiba; sehabis bermain gitar, menyanyi-nyanyi, berbicara-bicara, dan makan-makan, lalu langsung bubar!  Barangkali ini kebiasaan yang terbawa dari budaya kita, cukup mengatakan ‘pulang dulu ya?’ dan sejenisnya, tanpa ada basa-basipre-closing. Dalam acara undangan makan, basa-basi dalam budaya tutur bahasa Inggris adalah mengungkapkan pujian atas sajian makannya, selain berterimakasih.  Jadi, ketika sedang menikmati makan, biasanya ada ungkapan semacam ‘the soup is so nice’, atau ‘it’s beautiful’, atau ‘hm..it’s delicious’ atau ‘it’s so good’, atau ‘it’s great’ dan sejenisnya, dan ketika kita selesai acara dan sebelum berpamitan, biasanya perlu mengulang dengan mengatakan ‘the dinner was beautiful, Anne. Thank you’ dan sejenisnya (perhatikan penggunaan ‘was’).
Setelah melalui tahap pre-closing, barulah percakapan diakhiri dengan closing, yaitu dengan ucapan ‘goodbye’, ‘see you’, dan sejenisnya.  Jadi, bila kita amati, dalam komunikasi interpersonal, budaya tutur bahasa Inggris memiliki banyak basa-basi, walaupun secara umum budaya Barat lebih direct daripada budaya Indonesia.  Karena itu, bila kita terlibat dalam komunikasi di kancah internasional, ada baiknya memperhatikan aspek basa-basi ini, agar komunikasi terjalin nyaman.

Agenda ke Depan