Forum Dosen Indonesia

Merupakan organisasi yang didirikan tanggal 24 Agustus 2013, bersifat independen yang tidak terikat langsung dengan institusi anggotanya dan berbasis teknologi informasi. Didirikan dengan maksud melakukan advokasi untuk tujuan pengembangan kualitas dosen dan pendidikan tinggi Indonesia.

Forum Dosen Indonesia di Internet

1) Kuning / Emas : Pendidikan, mencetak generasi emas Indonesia, 2) Biru Langit : Penelitian, seperti langit tanpa batas yg dapat dicapai sebatas kekuatan manusia, 3) Hijau : Pengabdian masyarakat yang lebih bersifat kerelawanan, bekerja demi amal, 4) Merah dan putih : Indonesia.

ORMAS Dosen Indonesia

Berawal dari Grup Dosen Indonesia di Facebook menjadi ORMAS Dosen

Tampilkan postingan dengan label Program. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Program. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Maret 2017

WORKSHOP PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN OLEH FDI SULSEL DAN STIE AMKOP


Sejumlah dosen mengikuti Workshop Penulisan Proposal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sejak 21-22 Maret 2017. Pelatihan yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AMKOP Makassar ini diharapkan bisa meningkatkan minat menulis karya ilmiah di kalangan dosen. Para dosen menerima materi dari anggota Forum Dosen Indonesia (FDI) DPD Sulawesi Selatan, Andi Dirpan dan Marhamah Nadir.
"Kegiatan ini sengaja kami laksanakan untuk dosen agar minat mereka untuk meneliti dan menulis lebih meningkat. Apalagi teman teman FDI ikut memberi support untuk itu," ujar Asistent Direktur II Program Pascasarjana STIE AMKOP, Dr Gunawan Bata Ilyas, Rabu (22/3/2017). adapun salah satu materi yang dipaparkan yakni pengenalan aplikasi berbasis online bernama Mendeley, sebuah program untuk memudahkan proses penulisan daftar pustaka, kutipan literatur atau referensi tulisan ilmiah dari penelitian yang sudah ada. p
"Aplikasi Mendeley sangat berguna bagi peneliti yang ingin menulis hasil penelitiannya baik untuk daftar pustaka maupun untuk menghindari plagiarisme tulisan ilmiah," ujar Andi Dirpan, Dosen Ilmu Pertanian Universitas Hasanuddin itu. Menurutnya, saat ini dosen telah banyak dituntut untuk menulis kemudian mempublikasikan hasil penelitiannya. Dengan aplikasi ini, kata dia, maka proses penulisan referensi dan literatur tidak dilakukan secara manual lagi. 
Sementara itu, Marhamah Nadir yang membawakan materi teknik penulisan proposal itu meminta kepada para dosen agar tidak menghabiskan waktu hanya untuk mengajar. Namun harus dibarengi dengan melakukan penelitian-penelitian? dan tidak hentihentinya untuk menulis. "Jangan takut dan ragu, banyak kok sumber pendanaan yang bisa kita manfaatkan, baik oleh dosen PTN maupun PTS," kata Marhamah Nadir yang juga ketua II FDI Sulsel.  


sumber: edukasi.rakyatku.com

Rabu, 22 Maret 2017

Pelatihan Penyusunan Proposal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Pada hari Selasa tanggal 21 Maret 2017 Forum Dosen Indonesia DPD-Sul-Bar mengadakan pelatihan “Penyusunan Proposal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat” yang bertempat di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Marendeng Majene. Narasumber yang diundang adalah bapak Dr. Tenriware, S.Pi., M.Si, merupakan reviewer penelitian desentralisasi DRP2M Ristek Dikti, dan juga Anggota Pengurus FDI DPD Sul-Bar. Pelatihan diikuti oleh dosen-dosen yang berasal dari beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada Di Sulawesi Barat, seperti Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR), STIKES Marendeng Majene, dan AKPER YPPP Wonomulyo.
Pada acara pembukaan, ketua FDI DPD Sul-Bar, Irfan AP, S.T., M.MT, memberikan sambutan mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh peserta dosen yang telah hadir, dan antusias menjadi anggota FDI DPD Sul-Bar. Selanjutnya, acara inti terdiri dari tiga sesi, pemaparan materi oleh narasumber, diskusi/tanya jawab dan coaching clinic. Ada beberapa poin penting yang disampaikan oleh Dr. Tenriware yaitu (1) hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mengusul proposal penelitian dan pengabdian masyarakat, (2)  tips dan cara menyusun proposal dengan baik, (3) bagaimana menginput data pada simlitabmas.ristekdikti.go.id, dan (4) Skema-skema penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Beliau mengatakan “biasakan membaca panduan pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat yang dirilis oleh Ristek Dikti sebelum menyusun proposal, jangan sampai ‘salah kamar’, karena hal dasar seperti inilah yang kadang mebuat proposal kita tidak lolos”. Artinya, sebelum menyusun proposal, kita harus melihat penelitian dan pengabdian yang akan kita laksanakan bisa masuk di skema mana, dan apakah syarat dan ketentuan pada skema tersebut sesuai dengan background kita.
Materi yang dipaparkan cukup menarik, seperti yang dikatakan oleh salah satu peserta pelatihan dari STIKES Marendeng, Immawanti. Hal ini juga terlihat pada sesi tanya jawab atau diskusi, banyak peserta yang merespon dan bertanya sehingga diskusi terlihat alot tapi menarik dan menambah pengetahuan baru terutama hal-hal dasar yang biasa terlupakan saat menyusun proposal. Diakhir acara, bapak Dr. Tenriware menyampaikan bahwa pendaftaran proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tahun anggaran 2017 akan dibuka tanggal 1 April mendatang. Dan beliau memberikan kesempatan kepada peserta Anggota FDI untuk bisa berdiskusi lebih lanjut dengan menujukkan proposal yang telah disusun untuk direview.
Semoga dengan adanya pelatihan ini, dapat meningkatkan pengetahuan dosen-dosen yang ada di Sulawesi Barat tentang penyusunan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat. Sehingga, jumlah pengusul dan proposal dosen yang lolos di tahun 2017 semakin meningkat.

Rabu, 15 Maret 2017

PELANTIKAN DAN PENGUKUHAN DPC FDI SELATAN RAYA

Pemateri seminar  oleh Syamril S.T., M.Pd, 
dari Kalla Group, 

Sekjen FDI  Irma Sagala,

 Tomi Satria Y. S.Ip, selaku Wakil Bupati Bulukumba, 

Ketua FDI Sul-SeL, 

dan Ketua DPC FDI Selatan Raya

Peserta seminar dan pelantikan kepengurusan FDI SulSel 
Dewan Pengurus Cabang (DPC) Forum Dosen Indonesia (FDI) Selatan Raya dilantik dan dikukuhkan. Pelantikan digelar di Ruang Pola Kantor Bupati Bulukumba, Sabtu (11/3/2017). 
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) FDI Sulsel, Amril Arifin mengungkapkan, DPC FDI Selatan Raya tidak saja menjadi DPC pertama di Sulsel yang dilantik, tetapi sekaligus menjadi DPC pertama secara nasional. “Kita mengingatkan peran lokal DPC untuk selalu bersinergi dengan tetap menjaga kualitas demi peningkatan sumber daya manusia,” ujarnya.

Amril hadir beserta pengurus inti FDI Sulsel, diantaranya Dr Buyung Ramadhoni, Dr Marhamah Nadir, Dr Gunawan dan Dr Fivi Elvira. Pelantikan ini menjadi lebih istimewa, karena juga dihadiri Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) FDI Irma Sagala dan Ketua DPD FDI Sulawesi Barat Irfan A Palaloi.

Proses Pelantikan Kepengurusan DPC FDI Sul-Sel
Mereka menjadi pembicara dalam seminar kebudayaan. bertema ‘Membangun Sumber Daya Manusia menuju Peradaban Modern bersama FDI yang Berbasis Nilai Kearifan Lokal’. Irma pun memberikan apresiasi atas semangat budaya dan kearifan lokal yang diusung dalam tema seminar tersebut. Alumnus Perancis itu juga memberikan pesan agar para dosen, anggota FDI Selatan Raya senantiasa memberikan kontribusi positif, tidak hanya bagi kampusnya, tetapi juga bagi daerah dan masyarakat sekitar.

Turut menjadi pembicara adalah Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria dan Corporate Human Capital Strategic and Development Division Head Kalla Group Syamril. Tomy Satria selain memberikan selamat kepada Suardi selaku Ketua DPC FDI Selatan Raya, juga menyatakan siap bersinergi dengan FDI. “Kita punya potensi wisata, nilai-nilai kearifan lokal dalam budaya masyarakat adat Kajang, bahkan kawasan yang menjadi pembuatan kapal Phinisi yang telah mendunia, Silahkan FDI mau mengkaji dan bersinergi seperti apa,” ungkapnya.

Sementara Syamril menyatakan kesiapan Kalla Group untuk bersinergi dengan FDI, Yayasan Kalla intens bekerjasama dengan kampus, melalui desa binaan, beasiswa tugas akhir dan pengembangan daerah, Juga turut menjaga pewarisan nilai-nilai budaya Budaya Bugis-Makassar. “Semoga ini menjadi awal yang baik, mengawali itu mudah, tapi untuk menjalankan dengan konsisten itu tantangannya,” ujar Alumnus ITB ini. Sedangkan, Ketua DPC FDI Selatan Raya Suardi menyampaikan, Selatan Raya akan mengkoordinir dosen-dosen yang berada pada lima kabupaten, yakni Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai dan Selayar. Tentu ini bukan hal yang mudah, tapi di situlah tantangannya. Dalam waktu dekat akan ada konsolidasi melalui raker.


by, Irfan Page

Senin, 25 Juli 2016

Membangun Jejaring dan Sinergi Menuju Profesionalisme Dosen Indonesia




oleh Amril Arifin

Ada diskusi yang menarik dari Seminar Nasional dan Poster Ilmiah yang sekaligus Rakerda FDI DPD Sulawesi Selatan pada 15 September 2016 yang telah berjalan dengan sukses di Hotel Horizon Makassar. Seminar yang dibuka langsung oleh Bapak Gubernur Sulawesi Selatan: Dr. Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH yang sekaligus sebagai Keynote Speaker menitipkan peningkatan kualitas pendidikan di Sulawesi Selatan yang telah menjadi kota tujuan pendidikan di Indonesia Timur.
Diskusi terkait tentang bagaimana bersinergi juga menjadi salah satu poin, ada ungkapan Dosen itu orang pintar: satu kepala, satu opini dan satu pendapat, akan sulit menyatukan mereka. Belum lagi dengan marak dan berkembangnya Organisasi Dosen, yang jauh sebelumnya sudah ada ADI (Asosiasi Dosen Indonesia), ditambah dengan ADRI (Ahli-­‐ Dosen Republik Indonesia), dan Organisasi Dosen lainnya; serta disusul dengan Forum Dosen Indonesia atau FDI yang menjadi organisasi dosen yang terbilang baru.

Tentang Forum Dosen Indonesia

Berawal dari Diskusi Group Facebook yang dibentuk oleh Bapak Djoko Luknanto dengan Group Dosen Indonesia atau GDI pada tahun 2010, group ini memunculkan banyak diskusi baik terkait bidang ilmu atau topic yang trend seperti energi, maritim dan lainnya. Traffic group ini cukup ramai dengan berbagai diskusi bahkan perdebatan sengit, termasuk tentang ide pembentukan organisasi dosen. Pada akhirnya di 23-­‐24 Agustus 2013 melalui pertemuan di STSI Bandung terjadilah kesepakatan membentuk organisasi Forum Dosen Indonesia yang terbentuk secara legal dengan akta notaris pada tanggal 8 Januari 2014 di Bandung yang sekaligus mengukuhkan bahwa DPP FDI berkedudukan di Bandung.

Kerja keras Pengurus DPP melalui road show yang dilakukan oleh Sekjen Irma Sagala mengunjungi beberapa daerah, membuahkan FDI saat ini telah memiliki 11 DPD Se-­‐Indonesia; termasuk Sulawesi Selatan yang sejak awal telah ikut memprakarsai kelahiran Forum Dosen Indonesia. DPD Sulawesi Selatan sendiri mulai sah dilantik sekaligus penyerahan SK pada 23 Juli 2016, oleh Ketua Umum DPP FDI Gatut Rubiono.

FDI DPD Sulsel: Push of Power versus Push of Quality

Beberapa waktu setelah pelantikan pengurus, tentunya kerja harus dimulai, merumuskan draft program kerja menuju rapat kerja daerah adalah mutlak untuk setiap pengurus. Dalam proses itu beberapa media bahkan rekan-­‐rekan dosen sendiri sempat bertanya: apakah FDI akan memperjuangan kenaikan tunjangan dosen, yang kebetulan pada saat itu bertepatan dengan turunnya SK penghapusan uang makan bagi dosen DPK; pertanyaan lain adalah apakah ini ada hubungannya dengan akan mencalonkannya seorang Dosen pada Pilgub mendatang?.

Opini memang bebas untuk dikemukakan, namun dengan tegas kami sampaikan bahwa tidak hanya FDI DPD Sulsel, dari DPP FDI pun pastinya akan dengan tegas menyatakan bahwa FDI bukanlah Push of Power, apalagi melibatkan diri ke issu politis baik lokal seperti Pilgub maupun nasional. FDI akan tetap pada issu akademis yang sangat terkait dengan konsentrasi dan spesifikasi kelimuannya. Bahkan pada Aturan Organisasi FDI: Ketua dan jajaran Presidiumnya pun tidak diperbolehkan menduduki jabatan setingkat Rektor/Ketua atau Wakil Rektor/Ketua pada institusinya.


Jika Push of Power yang dimaksud adalah Push of Quality maka disitulah ranah dan jalur yang akan dilaluinya, arahnya sudah jelas. Bagi FDI Kualitas berada pada 4 level/tingkatan; pada level pertama adalah Kualitas dari Pendidikan itu sendiri; yang selanjutnya pada level kedua: Kualitas adalah Culture yang ditandai dengan menyatunya kualitas sebagai budaya; pada level selanjutnya Kualitas adalah Services, pada tingkatan ini setiap unsur jasa yang diberikan adalah kualitas; dan pada tingkatan yang paling paripurna Quality is a life; kualitas telah menjelma dalam kehidupan keseharian kita. Kualitas adalah pengejawantahan dari Profesionalisme, memikirkan tunjangan adalah sama dengan memikirkan dan bekerja untuk kualitas; jika kualitas telah menjadi culture, atau bahkan naik pada level yang paripurna, maka dengan sendirinya kita tidak pernah akan berpikir tentang tunjangan lagi, ia akan mengalir dengan sendirinya.

Membangun Jejaring dan Sinergi

Pada Era MEA jejaring pastinya akan sangat penting dan bernilai, Karena tanpa jejaring kita tidak akan pernah mampu memecahkan berbagai persoalan sendirian, dan bukankah kita memang selalu berhubungan dengan pihak lain?, hal ini Sunnatullah karena setiap dari kita memiliki keterbatasan. Dalam membangun jejaring dibutuhkan tekad yang kuat, keramahan, keterbukaan, ketekunan bahkan kesabaran untuk bisa mendengar dan berbagi. Jika ini terwujud melalui kolaborasi dan sinergi maka Insya Allah akan terbangun dan terpelihara sampai waktu yang tak terhingga.

Dunia Akademik juga tidak bisa sendiri, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi menghendaki keterlibatan Industri dan Pemerintah; bahkan dengan konsep Quadruple Helix yakni keterlibatan komunitas, dan Komunitas itu salah satunya adalah FDI. Issu tentang akan hilangnya berbagai profesi di masa mendatang adalah suatu kepastian, mendidik mahasiswa hari ini diibaratkan mempersiapkan atlet olimpiade masa depan, yang sama sekali belum diketahui akan berlaga pada cabang apa, sangat dramatis. Kondisi ini mengharuskan akademisi turun dan terlepas bebas dari menara gadingnya, dengan memahami dan mencermati trendwatching kemana arah industri untuk meramu kurikulum bak seorang chef professional. Dalam kondisi tersebut banyak Universitas yang mengundang industri untuk masuk ke perguruan tinggi; namun tentunya levelnya perlu ditingkatkan lagi, seperti komentar Bapak Ridwan Arif – Dirut Fajar Holding: dengan Universitas yang masuk ke Industri.

Pelaksanaan pengabdian masyarakat juga membutuhkan kolaborasi quadruple helix, dengan masih banyaknya daerah tertinggal, melalui desa binaan dari pemerintah, ataupun para industri, para akademisi akan menjadikannya sebagai ladang untuk pengabdian, baik itu pelaksanaan dan pengajaran hasil penelitian ataupun kerja sosial lainnya dalam membantu peningkatan UKM di daerah setempat, seperti pengajaran ilmu ekonomi dan akuntansi kepada komunitas pertanian, atau bahkan pelatihan aplikasi IT, bahkan dengan synergi quadruple helix para petani tidak perlu memikirkan pemasaran produk, karena ada industri yang siap pada jajaran jejaring dan kolaborasinya.

Pada tataran inilah quadruple helix yang keempat atau komunitas, tepatnya FDI DPD Sulsel akan bekerja untuk Sulawesi Selatan, banyak bukti seperti keberhasilan komunitas PHRI Yogyakarta yang rutin memperkenalkan DIY sebagai “Never Ending Asia” sampai ke Eropa dan Dunia, tentunya Pak Gubernur Sulawesi Selatan jangan kita biarkan bertarung sendiri menjual Sulawesi ke dunia international, tetapi peran FDI DPD Sulsel melalui synergi yang tak terhingga batas waktunya, ditambah niat dan keikhlasan semua pihak dalam jejaring dan synergi yang penuh keterbukaan untuk saling mendengar dan berbagi akan membuatnya semakin powerfull. Sekali lagi, mau menjadi sebatang lidi atau bergotong royong menjadi sapu lidi, There’s No Superman, yang ada hanya Super Team.

Terkait dengan keberadaan Organisasi Dosen lainnya, janganlah dianggap sebagai suatu perbedaan atau persaingan, justru sinergi dengan seluruh komunitas adalah penting, berbagi peran dalam mengusung issu juga adalah sinergi, bukankah masalah dan pemikiran para dosen begitu kompleks dan beragam, nah issu inilah yang akan kita lakoni dalam perannya masing-­‐masing. Sebagai Organisasi Dosen yang baru FDI akan banyak belajar terhadap para senior seperti ADI. Organisasi Dosen ini akan memainkan perannya masing-­‐ masing layaknya sebuah orkestra yang harmoni, tidak butuh dirigen, karena mereka bermain dengan ikhlas, bermain dengan hati.

Penutup

Rapat Kerja Daerah DPD Forum Dosen Indonesia Sulawesi Selatan telah selesai, saatnya untuk bekerja dan jangan pernah tinggalkan mimpi untuk membuatnya menjadi nyata. Terima Kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Makassar, Wakil Rektor Universitas Negeri Makassar, Wakil Rektor Universitas Muslim Indonesia, Dirut PT. Media Fajar Holding, DPP Forum Dosen Indonesia, Ketua Program Pasca STIE AMKOP, atas kehadirannya sebagai Pemateri dan Host pada Seminar Nasional dan Poster FDI DPD Sulawesi Selatan. Terima kasih pula kami sematkan kepada PT. Semen Tonasa, dan para Media: Fajar, Tribun, dan Media Online atas dukungan Sponsorship dan pemberitaan yang wacana yang kami sampaikan; Demikian pula kepada Steering Committee dari DPP FDI: Bapak Frederik, Bapak Hidayat Ely, Bapak Fitrah Jaya, dan Ibu Een Hardiani beserta Para Panitia dan Segenap Pengurus DPD FDI Sulsel.

Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengatakan jangan tanyakan bagaimana bentuk sinergi FDI DPD Sulawesi Selatan, maju terus dan berjalanlah, bahkan berlari, karena diperjalanan kita tidak akan pernah tau siapa yang akan kita temui untuk bersinergi bersama, dalam jangka waktu yang tak terhingga, dan tentu saja tetap dengan prinsip “push of quality”, dan bingkai pada ranah spesifikasi keilmuan. Menjadi dosen bukanlah sekedar profesi, ia adalah panggilan jiwa diselimuti keihklasan yang tak pernah didustai, sejauhmana kau berjalan, maka ia akan selalu menuntunmu kembali; selayaknya pula dalam bersinergi arahnya sudah jelas, jalurnya sudah terang, Insya Allah dengan “nawaitu” yang sama, Forum Dosen Indonesia DPD Sulawesi Selatan mengajak empat belas ribu Dosen di Sulawesi Selatan: Lets Fight for Quality, Bismillahirrahmanirrahim.

Rabu, 08 Juli 2015

Seminar, Musyawarah Nasional, dan Culture Tour


Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 (tiga) hari yaitu tanggal 24-26 Agustus 2015 di Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. 


Kegiatan yang akan diselenggarakan sebagaimana rincian berikut ini:
  1. Call for Paper, tanggal 1 Juli – 7 Agustus 2015. Penyerahan full paper terakhir tanggal 7 Agustus 2015 dan pengumuman review pada tanggal 8-10 Agustus 2015. Publikasi akan dilakukan dalam bentuk Proceeding Elektronik ber ISSN.
  2. Seminar Nasional, diselenggarakan pada tanggal 24 Agustus 2015 bersamaan dengan ulang tahun FDI yang ke 2, dengan tema "Revitalisasi Pendidikan, Sains, Teknologi, dan Budaya untuk Menunjang Daya Saing Bangsa yang Mandiri dan Berkepribadian”.
  3. Musyawarah Nasional adalah kegiatan khusus dan internal organisasi FDI untuk penguatan FDI ke depan. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 25 Agustus 2015.
  4. Culture Tour, diselenggarakan pada tanggal 26 Agustus 2015 sebagai kegiatan penutup yang mempunyai kesan tersendiri terhadap Munas dan kota Bandung.
Contact person:
Amril Arifin (Dana dan Kerjasama)    : 08114605154
Irma Sagala (Administrasi)        : 08126753054
Y. Adam Prasetyo            : 0811225171

Rekening Bank : Bank Mandiri No.130-00-4424081-3 an. Forum Dosen Indonesia


Agenda ke Depan

Agenda ke Depan