Forum Dosen Indonesia

Merupakan organisasi yang didirikan tanggal 24 Agustus 2013, bersifat independen yang tidak terikat langsung dengan institusi anggotanya dan berbasis teknologi informasi. Didirikan dengan maksud melakukan advokasi untuk tujuan pengembangan kualitas dosen dan pendidikan tinggi Indonesia.

Forum Dosen Indonesia di Internet

1) Kuning / Emas : Pendidikan, mencetak generasi emas Indonesia, 2) Biru Langit : Penelitian, seperti langit tanpa batas yg dapat dicapai sebatas kekuatan manusia, 3) Hijau : Pengabdian masyarakat yang lebih bersifat kerelawanan, bekerja demi amal, 4) Merah dan putih : Indonesia.

ORMAS Dosen Indonesia

Berawal dari Grup Dosen Indonesia di Facebook menjadi ORMAS Dosen

Tampilkan postingan dengan label FDI Pusat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FDI Pusat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2019

JAS-PT Mengikuti Workshop Pendampingan dan Percepatan Akreditas Jurnal


Suasana Workshop Hari Pertama
Rabu hingga Jumat (2-4 Oktober) ini, JAS-PT (Jurnal Analisis Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia) yang diterbitkan oleh Forum Dosen Indonesia (FDI) berkesempatan menjadi salah satu peserta kegiatan Workshop Pendampingan dan Percepatan Akreditasi Jurnal Ilmiah Elektronik yang diselenggarakan oleh Dirjen Riset dan Pengembangan Kementerian Ristekdikti bekerjasama dengan Perkumpulan Pengelola Jurnal Ilmu Dakwah (PPJID) dan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor. Kegiatan yang diselenggarakan di Hotel Sahira Butik Bogor ini diikuti oleh 40 pengelola jurnal dari perguruan tinggi berbagai provinsi di tanah air. Workshop dipandu oleh narasumber-narasumber berpengalaman yaitu Kasubdit Fasilitasi Jurnal Ilmiah, Dr. Lukman, Kepala Seksi Jurnal Ilmiah Nasional, Yoga Dwi Aryanda, S.T., Ketua PPJID, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag., dan beberapa orang osesor akreditasi jurnal nasional.
Dr. Lukman dalam sambutannya berharap agar para peserta dapat memanfaatkan secara optimal kegiatan selama tiga hari ini, karena didampingi langsung oleh asesor akreditasi jurnal nasional. “Setelah akreditasi, misalnya lolos Sinta 6, jangan khawatir, setelah satu tahun bisa reakreditasi dan naik peringkat di Sinta. Tidak sedikit yang dari Sinta 5 atau 6 jadi Sinta 2, bahkan ada yang naik Sinta 1,” ujar Lukman memotivasi. Untuk jurnal yang mendapat peringkat 2 Sinta disediakan reward 15 juta rupiah, dan peringkat 1 sebesar 50 juta rupiah, tahun ini ada 6 jurnal yang masuk Sinta 1, jadi kita sudah persiapkan hadiah sebesar 300 juta,” cerita Lukman.


Foto Bersama Peserta dan Pengelola Workshop

Seirama dengan Lukman, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag, Editor in Chief Jurnal Ilmu Dakwah dan Ketua PPJID mengatakan bahwa reward dari Ristekdikti dalam usaha meraih akreditasi peringkat 1 atau 2 Sinta itu nyata. Sebagai contoh, jurnal yang dikelola oleh Dr. Uwes telah berhasil mendapatkan reward tersebut, dan juga mendapat hadiah dari kampusnya sendiri. Lebih lanjut, Dr. Uwes berharap bahwa peserta dapat sungguh-sungguh berusaha mengajukan akreditasi segera setelah kegiatan. “Jangan sia-siakan kesempatan ini, tahun depan belum tentu ada pendampingan dan percepatan akreditasi jurnal seperti ini," ujarnya. Panitia sendiri berharap agar seluruh jurnal peserta kegiatan bisa segera mengajukan akreditasi seminggu setelah kegiatan.
Pengelola JAS-PT yang dalam hal ini diwakili oleh pemimpin redaksi yang juga merupakan Ketua Umum Forum Dosen Indonesia (FDI), Irmawati Sagala, menilai kegiatan ini sangat bermanfaat guna persiapan pengajuan akreditasi JAS-PT. Irma berharap JAS-PT akan terakreditasi tahun ini sehingga bisa menjadi motivasi bagi pengelola jurnal-jurnal yang diterbitkan FDI lainnya untuk melakukan hal serupa. Terkait dengan persiapan akreditasi JAS-PT, Irma menargetkan usulan sudah bisa diajukan dalam seminggu ke depan. Untuk itu, tim redaksi akan melakukan rapat serta pengisian borang pada hari Sabtu-Minggu (5-6 Oktober) ini di Garut. JAS-PT menargetkan bisa masuk peringkat 3 Sinta.***


Kamis, 14 Februari 2019

Pengukuhan Pengurus, Forum Dosen Indonesia Rencana Gelar Seminar Internasional di Lhokseumawe


Dewan Pimpinan Pusat Forum Dosen Indonesia (DPP FDI) berencana menggelar pengukuhan pengurus yang dirangkaikan dengan rapat kerja nasional dan seminar internasional di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh (1-5/5/2019)

Demikian keputusan yang dihasilkan dalam rapat DPP FDI yang digelar di The Atjeh Connection Coffee & Resto, Sarinah, Jakarta. Hadir dalam rapat itu, dekan FEB Universitas Malikussaleh Wahyuddin Albra, dosen STAIN Sorong Ismail Suardi Wekke, dosen UIN Jakarta Rulli Nasrullah, dan dosen IAIN Batusangkar Yanti Mulia Roza. 

Sementara itu, ketua umum FDI Irmawati Sagala yang sementara riset di Perancis dan Belanda, menyampaikan arahan lewat video call agar semua anggota menyukseskan rakernas tersebut. 

Sekretaris Jenderal FDI Yanuardi Syukur, menyatakan bahwa momen tersebut juga dirangkaikan dengan seminar internasional terkait sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri. 

"Seminar internasional akan mengundang para dosen dan peneliti di dalam dan luar negeri untuk mempresentasikan hasil riset dan pemikiran terbaik mereka," kata Yanuardi. 

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh, Wahyuddin Albra, menyambut positif kegiatan yang akan digelar di kampusnya. 

"Sebagai tuan rumah, kami akan berusaha memberikan yang terbaik demi kesuksesan acara FDI di Lhokseumawe," kata Wahyuddin yang juga bertindak sebagai Steering Committee rakernas FDI. 

Selain itu, FDI juga berencana peluncuran buku karya anggota FDI dari seluruh Indonesia, lomba karya tulis ilmiah mahasiswa tingkat nasional, workshop penulisan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat, dan workshop penulisan jurnal dan buku. *

Minggu, 05 Februari 2017

Organisasi Profesi ; Antara Kebutuhan dan Realitas

Ditulis Oleh: Irmawati Sagala (Sekretaris DPP FDI Periode 2015-2018)

Tulisan ini saya buat sebagai refleksi atas seringnya muncul pertanyaan tentang organisasi dosen, dan lebih khusus lagi tentang Forum Dosen Indonesia (FDI), sebagai salah satu organisasi profesi dosen yang saat ini ada di Indonesia. Dua pertanyaan paling sering muncul adalah pertama, tentang apa keuntungan yang bisa diperoleh ketika bergabung dengan sebuah organisasi dosen dan kedua, apa yang dikerjakan oleh organisasi dosen selama ini. Pertanyaan terakhir bahkan kadang dilontarkan dengan nada sinis, lalu sebagiannya melahirkan ide untuk membuat organisasi baru, baik yang akhirnya terlaksana maupun tidak. Perlu saya garis-bawahi, bahwa tulisan ini adalah pandangan pribadi saya, dengan mengambil contoh organisasi FDI, dimana saya berkecimpung sejak awal pendiriannya. Karena itu, terlebih dahulu saya mohon maaf jika nantinya dalam tulisan ini ada hal-hal kurang berkenan di hati pembaca.
Sebelum saya mulai berbagi pemikiran, saya ingin mengajak pembaca untuk mengenal FDI lebih dahulu. Bagi rekan-rekan yang belum mengenal FDI, silahkan membaca sejarah FDI di website www.fdi.or.id, juga ada dalam group FB FDI, dimana di sana juga tertera akta notaris, AD/ART, NPWP, Rekening, Surat Terdaftar di Kementerian Dalam Negeri, mekanisme pendaftara anggota, dan beberapa hal sederhana yang telah dilakukan FDI. Sebagai rangkuman, saya sampaikan bahwa FDI adalah salah satu organisasi profesi dosen yang ada di Indonesia, didirikan tanggal 24 Agustus 2013 di ISBI Bandung. Sampai saat ini, sekretariat FDI masih menompang di kampus ISBI Bandung. FDI merupakan organisasi legal formal, memiliki seluruh kelengkapan yang disyaratkan dalam UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi kemasyarakatan. Dengan bentuk organisasi dan target-target saat ini, FDI memilih tidak membuat Badan Hukum melalui Kementerian Hukum dan HAM, melainkan mendaftar di Kementerian Dalam Negeri. Sampai Bulan ini, FDI sudah memiliki 14 cabang yaitu:
1.      Sumatera Utara
2.      Jambi
3.      Sumatera Selatan
4.      Bengkulu
5.      Jawa Barat
6.      Banten
7.      Jawa Tengah
8.      Jawa Timur
9.      Sulawesi Selatan
10.  Sulawesi Barat
11.  Sulawesi Tenggara
12.  Sulawesi Tengah
13.  Papua
14.  Nusa Tenggara Barat
Setelah deklarasi pada Agustus 2013, FDI sudah melaksanakan Munas I pada Agustus 2015. Periode pertama kepengurusan bisa dibilang merupakan periode konsolidasi internal bagi FDI, lebih khusus lagi berupaya meluaskan daerah. Pasang surut semangat terus terjadi, mengingat seluruh pengurus adalah dosen yang mengemban segala tugas dan tanggung jawab sesuai dengan peraturan perundangan dan aturan lain yang mengikat. Menyadari kemampuan sementara yang dimiliki, pada Munas I disepakati dua hal utama yaitu melanjutkan kepengurusan lama dengan penyesuaian yang dibutuhkan dan meluncurkan program seminar tahunan yang sekaligus menjadi ajang rapat kerja, dengan penyelenggaranya FDI cabang secara bergiliran. Pada Desember 2016 lalu, dilaksanakanlah seminar tahunan kedua sekaligus rapat kerja yang bertempat di Malang, Jawa Timur. Rapat kerja menghasilkan tiga program unggulan, sebagaimana telah dipublikasikan di website FDI.
Lalu, apa keuntungan bergabung dengan FDI? Secara pribadi saya selalu ingin mengatakan “Jangan bergabung dengan FDI jika dasar berpikirnya adalah mendapat keuntungan, baik materil maupun non-materil”. Beberapa rekan di FDI sendiri tidak sependapat dengan jawaban saya ini. Tapi  pada realitanya, FDI memang tidak akan pernah bisa memberikan manfaat untuk siapapun, karena FDI adalah wadah kosong. Bermanfaat atau tidaknya FDI ditentukan oleh seberapa banyak kita bersama mau mengisi wadah itu. Tentu akan ada yang bertanya, bukankah ada pengurus? Lalu kenapa kalau ada pengurus? Apa yang bisa dilakukan pengurus tanpa dukungan bersama seluruh pihak? Bahkan pengurus-pun sama seperti dosen lainnya, yang selalu punya setumpuk tugas dan tanggung jawab di kampus dan lingkungan masing-masing. Pembentukan pengurus pusat FDI sendiri bisa dibilang unik. Seringkali dosen yang diminta bergabung dalam kepengurusan pusat menolak, karena berbagai kesibukan. Pendeknya, kita hanya punya semangat, berharap bisa berbuat sebatas kemampuan dalam ritme tugas yang ada. Apalagi, sebagian besar pengurus adalah dosen-dosen muda, yang bahkan belum masuk “papan atas” di kampusnya. Sejauh ini, FDI baru bisa menyelenggarakan beberapa seminar, kuliah daring dan persiapan penerbitan jurnal tentang higher education.
 Oleh karena itu, FDI mengusung semboyan “dari kita, oleh kita dan untuk kita”. Artinya, FDI akan bernilai dan berdaya guna jika kita bersama bisa menghimpun sumber daya dan mengelolanya secara bersama untuk kemaslahatan pendidikan tinggi dan profesi dosen. Pengurus hanyalah fasilitator untuk mengharmonikan gerak kita bersama. Ruhnya FDI ada pada kebersamaan kita. Nah, kalau frame berpikir seperti ini sudah terbangun, saya berani bilang ada banyak sekali manfaat dengan adanya organisasi dosen, semisal FDI. Berikut beberapa yang bisa saya sampaikan:
A.    Manfaat bagi pendidikan tinggi
1.      Organisasi profesi dosen bisa menjadi wadah lahirnya gagasan-gasan besar dalam pengembangan sistem pendidikan tinggi. Outputnya antara lain berupa jurnal tentang higher education, evaluasi perturan perundangan, naskah akademik bahkan rancangan peraturan perundangan terkait pendidikan tinggi dan profesi dosen. Dosen semestinya menjadi stakeholders penting dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tersebut, bukan hanya sebagai objek bahkan proyek peraturan yang kadang di luar nalar akademik.
2.      Menjadi mitra pemerintah dalam pengembangan pendidikan tinggi dan mutu dosen, misalnya sebagai sarana alternatif dalam jaminan kualifikasi dosen dan lainnya.
3.      Menjadi fasilitator dan motivator lahirnya karya-karya akademik bermutu dan bermanfaat bagi bangsa.
B.     Manfaat bagi institusi
Menjembatani interaksi civitas akademika lintas kampus dalam melakukan kerjasama-kerjasama Tridharma PT baik secara institusional maupun personal. Output dari interaksi ini akan bisa secara langsung dirasakan oleh civitas kademika dan juga dalam peningkatan image kampus. Beberapa point penilaian akreditasi misalnya, akan sangat terbantu dengan keaktifan dosen dalam organisasi profesi beserta jejaringnya. Bahkan “sekedar” kartu anggota organisasi profesi pun bisa membantu mengisi borang akreditasi.
C.     Manfaat bagi pribadi
Sebagai  wadah membangun jejaring karya Tridharma dan aktualisasi diri yang outputnya akan sangat bermanfaat membantu memenuhi beban kerja dosen. Program kuliah daring FDI, panitia seminar dan pengelola jurnal misalnya, bisa digunakan sebagai kegiatan PkM atau kegiatan penunjang dalam laporan kinerja dosen (LKD). Sesama anggota juga bisa melakukan kegiatan penelitian kolaboratif lintas perguruan tinggi serta kegiatan-kegiatan akademik lainnya.
Uraian di atas menunjukkan banyak manfaat dan kegunaan organisasi profesi, termasuk salah satunya FDI.  Tapi pertanyaan selanjutnya, seperti saya sebut di atas, adalah apa yang sudah dilakukan organisasi dosen? Ada banyak organisasi dosen di Indonesia, baik yang berbasis profesi maupun bidang ilmu. Saya yakin, rekan-rekan bisa mencari informasi sendiri tentang keberadaan organiasi-organisasi ini. Meskipun pengalaman dalam sebuah momen membawa saya pada kesimpulan bahwa Kemenristekdikti-pun belum punya data yang valid tentang semua organisasi-organisasi profesi dan keilmuan dosen. Masing-masing organisasi berdiri dengan filosofi dan target sendiri. Harus diakui bahwa dari sejumlah banyak organisasi yang ada, belum mampu mewadahi secara optimal aspirasi dosen, terutama terkait advokasi masalah-masalah seputar kehidupan profesional dosen.
Saya pribadi, dan mungkin juga rekan-rekan semua, berharap oragnisasi-organisasi profesi yang ada saat ini bisa berhimpun membentuk satu barisan yang lebih kuat dan berpengaruh dalam hal-hal strategis untuk pengembangan pendidikan tinggi dan profesionalisme dosen. Namun, langkah ke arah sana tentu butuh proses. Hal penting yang perlu kita jaga saat ini adalah rasa kebersamaan dan saling menghargai, toh tujuan dan cita-cita kita sama. Sambil terus melihat peluang ke arah sana, adalah lebih arif jika kita bergabung dengan salah satunya, lalu bekerja sesuai dengan sumber daya yang kita miliki. Saya yakin dan percaya bahwa semua organisasi profesi yang ada, terbuka untuk kontribusi semua dosen. Dengan bergabung secara riil dengan salah satu organisasi ini, kita juga akan bisa menemukan sendiri  secara langsung,  apa realitas yang ada dalam gerak organisasi dosen. Dari sana, masing-masing kita bisa semakin memantapkan diri, tentang apa kontribusi kita dan bagaimana organisasi dosen dikelola ke depannya.  
Semoga tulisan ini memberikan sedikit jawaban terhadap pertanyaan seputar organisasi dosen, khususnya tentang FDI. Jika rekan-rekan berniat bergabung dengan FDI, mengumpulkan dan mengelola sumber daya secara bersama untuk tujuan yang telah ditetapkan dalam AD/ART, maka pengurus  tentu menyambut dengan suka-cita. Salam Dosen Indonesia !


Rabu, 14 Desember 2016

SEMINAR NASIONAL II DAN RAPAT KERJA; FDI Tetapkan Tiga Program Unggulan di 2017

Seminar nasional dan rapat kerja tahun 2016 Forum Dosen Indonesia (FDI) telah selesai dilaksanakan pada tanggal 8-9 Desember 2016 lalu. Seminar nasional yang merupakan agenda tahunan FDI dilaksanakan pada hari pertama bertempat di aula Fakultas Teknik kampus III Universitas Widyagama Malang, dengan tema “Rekonstruksi Peradaban Nusantara, Menghidupkan Kejayaan Majapahit”. Acara yang dihadiri sekitar 80 orang peserta dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia tersebut dibuka oleh Wakil Rektor I, Prof. Dr. Ir. Sukamto, MS dan dihadiri juga oleh Dirjen Belmawa Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, Prof. Intan Ahmad, Ph.D.
Tampil sebagai pembicara utama seminar yaitu Dr. Hj. Een Herdiani, S. Sen, M. Hum  dari Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Dr. I Gde Nyoman Merthayasa  dan Institut Teknologi Bandung dan Dr. Titik Inayati, SE., MM. dari Universitas Islam Majapahit Mojokerto. Setelah istirahat siang, sesi seminar dilanjutkan dengan presentasi 75 makalah yang lolos seleksi dari total 91 naskah yang masuk. Keseluruhan naskah yang lolos diterbitkan dalam prosiding ber-ISSN dan dipublikasikan secara online pada website FDI. Kegiatan ini diharapkan akan meningkatkan semangat dosen-dosen di Indonesia dalam menulis karya ilmiah serta memasilitasi publikasinya.
Foto bersama pada penutupan kegiatan seminar

Adapun rapat kerja dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 9 Desember di Padepokan Mangun Dharma Kecamatan Tumpang, asuhan Ki Sholeh. Rapat kerja dihadiri oleh 31 orang peserta dari 8 kepengurusan daerah yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, 3 daerah yaitu Banten, Sulawesi Tenggara dan Papua, tidak mengirim utusan dikarenakan kendala jarak dan kepadatan agenda akhir tahun di beberapa kampus. Sampai saat ini, FDI sudah memiliki 11 kepengurusan daerah (DPD) dan dalam waktu dekat akan diresmikan 3 kepengurusan daerah baru yaitu Sulawesi Barat, Bengkulu dan Sulawesi Tengah. Sepanjang tahun 2017 mendatang, FDI menargetkan sudah memiliki cabang di 17 provinsi, atau 50 % dari total provinsi di Indonesia. Oleh karena itu, mulai tahun 2017 mendatang, FDI akan meningkatan sosialisasi serta memperbarui mekanisme keanggotaan.
Suasana Rapat Kerja

Dalam raker dibahas beberapa agenda unggulan, yaitu:
1.    Konferensi internasional yang akan dilaksanakan di Makassar pada bulan Agustus tahun 2017 dengan tema kemaritiman.
2.    Penerbitan jurnal meliputi:
a.       Jurnal yang dikelola pengurus pusat dengan bidang bahasan terkait pendidikan tinggi dan keprofesian dosen (jounal on higher education).
b.      Jurnal yang dikelola pengurus daerah dengan bidang kajian keilmuan spesifik sesuai dengan karakter dan potensi daerah terkait.
3.    Optimalisasi website FDI untuk mendukung profesionalisme dan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi kegiatan:
a.       Kuliah bulanan online tentang keprofesian dosen meliputi tema sosialisasi peraturan perundang-undangan terkait, sistem penjaminan mutu, sertifikasi dan kepangkatan, metode pembelajaran dan lainnya. Kuliah diampu oleh anggota FDI yang berkompeten dan dapat diikuti oleh dosen-dosen yang berminat.
b.      Pertukaran dosen tamu, yaitu anggota FDI memberikan kuliah secara online di kampus lain sesuai bidang keilmuan sebagai upaya pertukaran atmosfir akademik dan keilmuan antar perguruan tinggi.

c.       Kolom konsultasi seputar pendidikan tinggi dan profesi dosen.
Pada kesempatan rapat kerja ini juga, dibicarakan persiapan suksesi kepengurusan beberapa daerah serta koordinasi agenda daerah-daerah untuk tahun 2017. Masing-masing daerah akan melaksanakan kegiatan-kegiatan berbeda dan mendorong terjalinnya kolaborasi dosen lintas perguruan tinggi dan lintas daerah. Selain agenda-agenda tersebut, juga dibahas upaya peningkatan kerja sama dengan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi serta kementerian lain yang memayungi perguruan tinggi, dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan tinggi di tanah air.
Untuk itu, pengurus berharap peran aktif seluruh anggota dalam pelaksanaan agenda-agenda FDI sehingga keberadaan FDI dirasakan manfaatnya secara luas oleh civitas akademika perguruan tinggi di Indonesia. Informasi lebih lanjut seputar organisasi dan kegiatan FDI dapat diakses melalui website www.fdi.or.id atau kontak pengurus melalui email sekretariat[at]fdi.or.id.   

Rabu, 22 Januari 2014

Keanggotaan

Statistik - Update 22 Januari 2013




Selasa, 21 Januari 2014

Proses Pembentukan Forum Dosen Indonesia 2


Doeloe sekali, GDI itu anggotanya hanya ratusan dosen. GDI di-create oleh pak Djoko Luknanto (FT UGM), which I would rather call him…mas Jack La Motta (Sky Walker). Itu nama maya yang sudah saya kenal doeloe sekali ketika beliau ambil S3 di Amrik (saya mengenalnya lewat grup diskusi mailing list islam@isnet.org). Ini mailinglit mahasiswa Indonesia yang sedang tugas belajar di LN (yang belakangan juga melibatkan dosen-dosen di dalam negeri).

Selain mas Jack, ada pak Sukanto Tedjokusuma dan pak Komang Merthayasa…yang menjadi co-founder GDI. Beliau-beliau inI dosen senior yang sudah lama menjadi reviewer DPT (blockgrant yang didanai DIKTI). 

Seiring dengan berjalannya waktu, keanggotan GDI terus membengkak (dari beberapa ratus menjadi ribuan-mendekati sepuluh ribu-melebihi sepuluh ribu). Diantara anggota GDI ada yang punya ide untuk kopi darat…kopdar pertama terjadi di Surabaya, yang difasilitasi oleh pak Sukanto Tedjokusuma. Dari pertemuan ini mulai ada ikatan batin diantara anggota GDI. Secara mandiri, beberapa anggota GDI mengadakan kopdar ketika salah satu anggota berkunjung ke kota lain.

Dari pertemuan-pertemuan seperti itu, muncul gagasan untuk membentuk suatu organisasi massa yang anggotanya para dosen. Namun demikian, organisasi itu harus berbeda dengan GDI, karena menurut foundernya…GDI tidak akan dijadikan organisasi secara resmi…tapi cukup untuk ajang bertukar pikiran secara maya…lebih detail tentang tujuan pembentukan GDI dapat dilihat di ‘about’ tentang GDI.

Merespon informasi yang dirilis oleh founder GDI, beberapa kawan penggiat GDI mengadakan temu darat di Bandung untuk membuat persiapan pendirian sebuah organisasi massa yang dapat menanungi para dosen. Dalam pertemuan itu, sempat diundang ‘sesepuh’ dosen dari ITB (bu Mega), yang sudah lama malang melintang di DIKTI. 

Kristalisasi dari pertemuan Surabaya-Bandung (Bandung Satu)…maka disiapkanlah sebuah draft akta pendirian sebuah organisasi massa yang dapat menaungi para dosen. 

Ketika draft akta pendirian mulai mengkristal…keluarlah regulasi baru yang memberikan remunerasi kepada PNS (kecuali dosen dan guru di lingkungan Kemendibud). Sebagian penandatangan petisi adalah mereka yang juga menggagas pendirian FDI.

Ketika sebagian teman di GDI menggalang petisi, sebagian yang lain tengah sibuk mempersiapkan penandatanganan akta pendirian oleh notaris di Bandung (Bandung Dua)…dan berdirilah ormas dosen dengan nama Forum Dosen Indonesia (disingkat FDI)

Agar FDI dapat didaftarkan secara resmi di Kementrian Hukum dan HAM, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu…FDI memiliki cabang di sekian propinsi. Karena itulah muncul cabang-cabang FDI di beberapa propinsi.

Bengkulu, 21 Januari 2014

Sabtu, 18 Januari 2014

Proses Pembentukan Forum Dosen Indonesia 1




Tahun 2010 (?) Bapak Djoko Luknanto (https://www.facebook.com/djoko.luknanto?fref=ts) membentuk group face book dengan nama Group Dosen Indonesia  https://www.facebook.com/groups/DiktiGroup/  sebagai pengembangan dari milist Dikti. Untuk mengelola grup tersebut, pak Djoko mengajak beberapa rekan dosen sebagai admin.

Diskusi grup berjalan dinamis dengan jumlah anggota terus bertambah. Tema perbincangan variatif sekali dan sangat ramai, bahkan tak jarang disertai perdebatan sengit khas para dosen. Suasananya luar biasa. Kemudian muncullah ide dari beberapa admin, khususnya (alm) Pak Sukanto Tedjokusuma (https://www.facebook.com/tedjokusuma?fref=ts) untuk membentuk sub grup yang mengakomodir tema-tema tertentu sehingga tema diskusi GDI tidak terlalu “crowded”. Di antara sub grup yang awal dibentuk adalah Forum Guru Dosen yang membahas sinergisasi pendidikan dasar-menengah dengan pendidikan tinggi, Forum Asosiasi Dosen (FAD) yang membahas organisasi profesi dosen, dan Forum Out Of Topic (FOOT) yang khas untuk sarana segala perbincangan informal dan humor.


Pada awal dibentuk (sekitar Mei 2011), Forum Asosiasi Dosen (FAD) https://www.facebook.com/groups/ForumAsosiasiDosen/ diisi dengan diskusi yang hangat. Pada waktu itu, banyak anggota mulai menyampaikan gagasan-gagasan idealismenya. Dan ternyata, umumnya angggota FAD belum tahu kalau sudah ada organisasi profesi dosen yang bernama Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) yang berdiri sejak tahun 1998. Perbincangan semakin hangat, terutama seputar bagaimana kiprah ADI selama ini, lalu apakah anggota FAD akan beramai-ramai bergabung dengan ADI atau membuat organisasi alternatif yang baru. Beberapa anggota FAD (diantarnya Irma Sagala https://www.facebook.com/irma.sagala.9?fref=ts dan Yuli Adam Prasetyo https://www.facebook.com/yadamp?fref=ts) sempat berencana hadir dalam Kongres ADI tahun 2012 di Batam. Namun karena kendala waktu yang bertepatan dengan masa masuk kerja setelah libur lebaran, maka tidak jadi hadir. Berikut saya kutipkan uraian panjang Bos Kanto (panggilan akrab anggota FOOT untuk almarhum) :

“Bu Irma Sagala dan Bapak/Ibu sekalian, sebelum membuat FAD ini saya sudah tahu ttg ADI. Sudah beberapa kali keberadaannya di-sebut² di group DI. Sekalipun demikian, saya tetap melihat ada positifnya membuat forum khusus yang membicarakan ttg asosiasi dosen. Kenapa begitu? Yang pertama tentunya karena beberapa kawan group DI ingin  membahasnya. Kedua, hasil evaluasi sederhana tentang ADI. Sebelumnya saya mohon maaf kepada pengurus ADI yang mungkin sudah bergabung ataupun yang nantinya akan bergabung di forum ini, karena dalam diskusi², ADI sebagai asosiasi dosen yang sudah eksis secara hukum pasti tidak dapat dihindarkan untuk dijadikan salah satu benchmark untuk keperluan evaluasi. Dan sesuai prinsip dasar evaluasi yang baik, maka harus diidentifikasi kelebihan dan kekurangannya secara komprehensip. Jadi kalau dalam diskusi terjadi pembahasan tentang kekurangan ADI maka mohon jangan diartikan sebagai men-jelek²kan ADI. Kalau ada sesuatu yang dianggap bisa dipakai untuk meningkatkan ADI maka silakan saja diadopsi yang tentunya dengan tidak melupakan pihak² yang telah berkontribusi terhadap hal tersebut. Selanjutnya, saya sambung lagi tentang evaluasi sederhana saya terhadap ADI. Kalau kita lihat struktur organisasinya maka terlihat sudah sangat baik, baik itu cakupan daerahnya maupun kompetensi akademis personel² yang duduk sebagai pengurus. Status berbadan hukum juga menunjukkan keseriusan founder ADI. Namun, sekilas telah nampak adanya indikasi yang menunjukkan bahwa roda organisasi belum berjalan seperti yang seharusnya bisa dicapai. Berarti, ada sesuatu yang kurang. Apa itu? Mari kita coba identifikasikan sama². Jadi, berdasar pada 2 pertimbangan di atas saya setuju² saja ketika kawan² mengusulkan adanya FAD ini.” (June 8, 2011 at 9:33pm)

“Kehadiran Forum Asosiasi Dosen jangan diartikan sebagai bakal lahir asosiasi dosen baru. Masih banyak alternatifnya. Demikian kira² yang saya sampaikan sebelumnya di group DI dan saya ulangi lagi tadi. Ijinkan saya dalam kesempatan ini untuk menguraikan lebih lanjut tentang apa yang saya maksud dengan "masih banyak alternatifnya". Ibu/Bapak mungkin sudah mulai merasakan rumitnya pertanyaan² yang saya lemparkan dalam forum ini. Padahal, itu baru awal saja dari diskusi panjang yang harus dilakukan untuk menghasilkan visi/misi, AD/ART, rencana strategis jangka panjang dan rencana strategis jangka pendek yang merupakan prasayarat dari suatu organisasi yang sehat. Pendek kata, paling tidak diskusi ini bakal berjalan ber-bulan² sebelum kita bisa menghasilkan draft dari dokumen² di atas. Sampai di sini saja mungkin sudah mengagetkan sebagian dari Bpk/Ibu sekalian. Tentunya setelah bersusah-payah seperti itu kita tidak ingin asosiasi dosen yang menurut kita ideal itu hanya eksis di dalam kertas, tapi kita ingin asosiasi itu benar² eksis karena kita semua menyadari bahwa kita bakal memperoleh manfaatnya. Tapi, di lain pihak, kita juga sudah bisa membayangkan betapa banyak usaha yang harus dicurahkan untuk membuat roda organisasi bisa berjalan seperti yang direncanakan. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak buru² memutuskan untuk membuat sendiri asosiasi tersebut karena masih ada alternatif² lain. Alternatif pertama, kita bawa konsep ke pengurus ADI. Kita bisa jelaskan bahwa kita, sekelompok dosen, telah berhasil menyusun konsep asosiasi dosen yang menurut kita ideal dan bakal didukung oleh banyak dosen. Tentunya yang dimaksud dengan dukungan tidak hanya sebatas pada vote tetapi perlu sampai diasosiasikan dengan kesedian menjadi anggota. Kalau memang seandainya ADI bersedia mengadopsinya sehingga terbentuk ADI++ maka kita tinggal mendaftar menjadi anggota saja. Sebagian mungkin bakal ditarik menjadi pengurus ADI++. Alternatif kedua, kalau jumlah SDM bisa terkumpul cukup, maka sebagian dari kita membentuk sendiri asosiasi dosen baru, dengan konsekuensi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan tentunya lebih banyak. Alternatif ketiga, kalau seandainya SDM yang terkumpul tidak mencukupi untuk membentuk asosiasi sendiri, maka bisa saja dikolaborasikan ataupun 'diberikan' kepada pihak lain di luar forum ini yang mampu untuk mengimplementasinya. Demikian sedikit elaborasi dari pernyataan singkat saya sebelumnya.” (8 Juni 2011).

Waktu itu, perbincangan bertahan hangat beberapa bulan, membuahkan tawaran-tawaran konsep. Namun belum sampai pada tahap eksekusi tindakan karena berbagai kendala realitas dosen.

Perbincangan di FAD pun perlahan sepi. Berbeda dengan perbincangan di FOOT yang ramai sepanjang hari, penuh tawa. Salah satu traadisi yang terbangun di FOOT adalah kopdar alias bertemu dengan sesama anggota ketika sedang ada agenda ke suatu daerah. Silaturrahim di FOOT memang unik, dan dilengkapi “Ospek”. Bahkan, saling berkirim souvenir adalah hal sangat lumrah dilakukan. Dengan semangat persatuan di FOOT, maka dilaksanakanlah pertemuan I di Surabaya tanggal 31 Mei 2012 dan melahirkan Forum Komunikasi Dosen Indonesia Wilayah Timur (FKDI-WT). Sayangnya, forum ini tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Namun demikian, semangat forum ini terus hidup di hati para anggota yang umumnya juga bergabung di FAD.

Beberapa kali perbincangan membentuk organisasi kembali mencuat sepanjang tahun 2011-2013, hingga semakin mengerucut sekitar bulan April 2013. Selanjutnya disepakatilah pertemuan tanggal 23-24 Agustus 2013 di STSI Bandung. Cukup banyak yang merespon dan berencana hadir. Rekening persiapan biaya pun dibuka. Dari kiriman dengan angka yang unik-unik, terkumpul dana Rp. 5.820.329 dari 31 orang anggota. Pertemuan Bandung pun terlaksana dengan dihadiri 16 anggota, yaitu:
  1. Dr. I Gde Nyoman Merthayasa, M.Eng (ITB)
  2. Dr. Een Herdiani, M.Hum (STSI Bandung)
  3. Ir. Gatut Rubiono, MT (Universitas PGRI Bayuwangi)
  4. Yuli Adam Prasetyo, M.Kom (STT Telkom)
  5. Irmawati Sagala, S.IP, M.Si (IAIN Jambi)
  6. Ricardo Freedom Nanuru, M.Phil (Universitas Halamhera)
  7. Amril Arifin SE, M.Si. Ak (STIE YPUP)
  8. Monica Mayeni, S.Kom (UST Jayapura)
  9. RA. Halimatussa’diyah, ST, M.Kom (Politeknik Negeri Sriwijaya)
  10. Dr. Nurida Finahari, MT (Univ. Widyagama Malang)
  11. Fitra Jaya (UMI Makassar)
  12. Ir. Heru Prastawa, DEA (Undip)
  13. Desy  Misnawati, M.Kom (Universitas Baturaja, Sulsel)
  14. Dr. Abdul Haris, MT (Unmul)
  15. Dr. Djadja Sardjana (ITB)
  16. Budi Setiawan, M.Si (STIE Kesatuan)
  17. Peserta tidak full: Kodrat Wibawa (Unpad), dan beberapa dosen STSI Bandung. Sebagai narasumber hadir Dr. Megawati Santoso (ITB).
Pada pertemuan tersebut, disepakati membentuk organisasi dengan nama Forum Dosen Indonesia (FDI) dan segera dibuat akta notaris. Pada pertemuan tersebut juga, dibentuk kepengurusan pertama sampai pelaksanaan Musyawarah Nasional I yang sementara direncanakan di Jawa Timur.

Setelah kesuksesan pertemuan Bandung, suasana FAD-FDI sempat sepi, hingga akhirnya dilaksanakan penandatanganan akta notais di Bandung pada tanggal 8 Januari 2014 dengan AD/ART dan susunan pengurus pusat hasil pertemuan di Bandung sebelumnya.

Sumber : Irma Sagala

Agenda ke Depan

Agenda ke Depan