Senin, 25 Juli 2016

Membangun Jejaring dan Sinergi Menuju Profesionalisme Dosen Indonesia




oleh Amril Arifin

Ada diskusi yang menarik dari Seminar Nasional dan Poster Ilmiah yang sekaligus Rakerda FDI DPD Sulawesi Selatan pada 15 September 2016 yang telah berjalan dengan sukses di Hotel Horizon Makassar. Seminar yang dibuka langsung oleh Bapak Gubernur Sulawesi Selatan: Dr. Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH yang sekaligus sebagai Keynote Speaker menitipkan peningkatan kualitas pendidikan di Sulawesi Selatan yang telah menjadi kota tujuan pendidikan di Indonesia Timur.
Diskusi terkait tentang bagaimana bersinergi juga menjadi salah satu poin, ada ungkapan Dosen itu orang pintar: satu kepala, satu opini dan satu pendapat, akan sulit menyatukan mereka. Belum lagi dengan marak dan berkembangnya Organisasi Dosen, yang jauh sebelumnya sudah ada ADI (Asosiasi Dosen Indonesia), ditambah dengan ADRI (Ahli-­‐ Dosen Republik Indonesia), dan Organisasi Dosen lainnya; serta disusul dengan Forum Dosen Indonesia atau FDI yang menjadi organisasi dosen yang terbilang baru.

Tentang Forum Dosen Indonesia

Berawal dari Diskusi Group Facebook yang dibentuk oleh Bapak Djoko Luknanto dengan Group Dosen Indonesia atau GDI pada tahun 2010, group ini memunculkan banyak diskusi baik terkait bidang ilmu atau topic yang trend seperti energi, maritim dan lainnya. Traffic group ini cukup ramai dengan berbagai diskusi bahkan perdebatan sengit, termasuk tentang ide pembentukan organisasi dosen. Pada akhirnya di 23-­‐24 Agustus 2013 melalui pertemuan di STSI Bandung terjadilah kesepakatan membentuk organisasi Forum Dosen Indonesia yang terbentuk secara legal dengan akta notaris pada tanggal 8 Januari 2014 di Bandung yang sekaligus mengukuhkan bahwa DPP FDI berkedudukan di Bandung.

Kerja keras Pengurus DPP melalui road show yang dilakukan oleh Sekjen Irma Sagala mengunjungi beberapa daerah, membuahkan FDI saat ini telah memiliki 11 DPD Se-­‐Indonesia; termasuk Sulawesi Selatan yang sejak awal telah ikut memprakarsai kelahiran Forum Dosen Indonesia. DPD Sulawesi Selatan sendiri mulai sah dilantik sekaligus penyerahan SK pada 23 Juli 2016, oleh Ketua Umum DPP FDI Gatut Rubiono.

FDI DPD Sulsel: Push of Power versus Push of Quality

Beberapa waktu setelah pelantikan pengurus, tentunya kerja harus dimulai, merumuskan draft program kerja menuju rapat kerja daerah adalah mutlak untuk setiap pengurus. Dalam proses itu beberapa media bahkan rekan-­‐rekan dosen sendiri sempat bertanya: apakah FDI akan memperjuangan kenaikan tunjangan dosen, yang kebetulan pada saat itu bertepatan dengan turunnya SK penghapusan uang makan bagi dosen DPK; pertanyaan lain adalah apakah ini ada hubungannya dengan akan mencalonkannya seorang Dosen pada Pilgub mendatang?.

Opini memang bebas untuk dikemukakan, namun dengan tegas kami sampaikan bahwa tidak hanya FDI DPD Sulsel, dari DPP FDI pun pastinya akan dengan tegas menyatakan bahwa FDI bukanlah Push of Power, apalagi melibatkan diri ke issu politis baik lokal seperti Pilgub maupun nasional. FDI akan tetap pada issu akademis yang sangat terkait dengan konsentrasi dan spesifikasi kelimuannya. Bahkan pada Aturan Organisasi FDI: Ketua dan jajaran Presidiumnya pun tidak diperbolehkan menduduki jabatan setingkat Rektor/Ketua atau Wakil Rektor/Ketua pada institusinya.


Jika Push of Power yang dimaksud adalah Push of Quality maka disitulah ranah dan jalur yang akan dilaluinya, arahnya sudah jelas. Bagi FDI Kualitas berada pada 4 level/tingkatan; pada level pertama adalah Kualitas dari Pendidikan itu sendiri; yang selanjutnya pada level kedua: Kualitas adalah Culture yang ditandai dengan menyatunya kualitas sebagai budaya; pada level selanjutnya Kualitas adalah Services, pada tingkatan ini setiap unsur jasa yang diberikan adalah kualitas; dan pada tingkatan yang paling paripurna Quality is a life; kualitas telah menjelma dalam kehidupan keseharian kita. Kualitas adalah pengejawantahan dari Profesionalisme, memikirkan tunjangan adalah sama dengan memikirkan dan bekerja untuk kualitas; jika kualitas telah menjadi culture, atau bahkan naik pada level yang paripurna, maka dengan sendirinya kita tidak pernah akan berpikir tentang tunjangan lagi, ia akan mengalir dengan sendirinya.

Membangun Jejaring dan Sinergi

Pada Era MEA jejaring pastinya akan sangat penting dan bernilai, Karena tanpa jejaring kita tidak akan pernah mampu memecahkan berbagai persoalan sendirian, dan bukankah kita memang selalu berhubungan dengan pihak lain?, hal ini Sunnatullah karena setiap dari kita memiliki keterbatasan. Dalam membangun jejaring dibutuhkan tekad yang kuat, keramahan, keterbukaan, ketekunan bahkan kesabaran untuk bisa mendengar dan berbagi. Jika ini terwujud melalui kolaborasi dan sinergi maka Insya Allah akan terbangun dan terpelihara sampai waktu yang tak terhingga.

Dunia Akademik juga tidak bisa sendiri, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi menghendaki keterlibatan Industri dan Pemerintah; bahkan dengan konsep Quadruple Helix yakni keterlibatan komunitas, dan Komunitas itu salah satunya adalah FDI. Issu tentang akan hilangnya berbagai profesi di masa mendatang adalah suatu kepastian, mendidik mahasiswa hari ini diibaratkan mempersiapkan atlet olimpiade masa depan, yang sama sekali belum diketahui akan berlaga pada cabang apa, sangat dramatis. Kondisi ini mengharuskan akademisi turun dan terlepas bebas dari menara gadingnya, dengan memahami dan mencermati trendwatching kemana arah industri untuk meramu kurikulum bak seorang chef professional. Dalam kondisi tersebut banyak Universitas yang mengundang industri untuk masuk ke perguruan tinggi; namun tentunya levelnya perlu ditingkatkan lagi, seperti komentar Bapak Ridwan Arif – Dirut Fajar Holding: dengan Universitas yang masuk ke Industri.

Pelaksanaan pengabdian masyarakat juga membutuhkan kolaborasi quadruple helix, dengan masih banyaknya daerah tertinggal, melalui desa binaan dari pemerintah, ataupun para industri, para akademisi akan menjadikannya sebagai ladang untuk pengabdian, baik itu pelaksanaan dan pengajaran hasil penelitian ataupun kerja sosial lainnya dalam membantu peningkatan UKM di daerah setempat, seperti pengajaran ilmu ekonomi dan akuntansi kepada komunitas pertanian, atau bahkan pelatihan aplikasi IT, bahkan dengan synergi quadruple helix para petani tidak perlu memikirkan pemasaran produk, karena ada industri yang siap pada jajaran jejaring dan kolaborasinya.

Pada tataran inilah quadruple helix yang keempat atau komunitas, tepatnya FDI DPD Sulsel akan bekerja untuk Sulawesi Selatan, banyak bukti seperti keberhasilan komunitas PHRI Yogyakarta yang rutin memperkenalkan DIY sebagai “Never Ending Asia” sampai ke Eropa dan Dunia, tentunya Pak Gubernur Sulawesi Selatan jangan kita biarkan bertarung sendiri menjual Sulawesi ke dunia international, tetapi peran FDI DPD Sulsel melalui synergi yang tak terhingga batas waktunya, ditambah niat dan keikhlasan semua pihak dalam jejaring dan synergi yang penuh keterbukaan untuk saling mendengar dan berbagi akan membuatnya semakin powerfull. Sekali lagi, mau menjadi sebatang lidi atau bergotong royong menjadi sapu lidi, There’s No Superman, yang ada hanya Super Team.

Terkait dengan keberadaan Organisasi Dosen lainnya, janganlah dianggap sebagai suatu perbedaan atau persaingan, justru sinergi dengan seluruh komunitas adalah penting, berbagi peran dalam mengusung issu juga adalah sinergi, bukankah masalah dan pemikiran para dosen begitu kompleks dan beragam, nah issu inilah yang akan kita lakoni dalam perannya masing-­‐masing. Sebagai Organisasi Dosen yang baru FDI akan banyak belajar terhadap para senior seperti ADI. Organisasi Dosen ini akan memainkan perannya masing-­‐ masing layaknya sebuah orkestra yang harmoni, tidak butuh dirigen, karena mereka bermain dengan ikhlas, bermain dengan hati.

Penutup

Rapat Kerja Daerah DPD Forum Dosen Indonesia Sulawesi Selatan telah selesai, saatnya untuk bekerja dan jangan pernah tinggalkan mimpi untuk membuatnya menjadi nyata. Terima Kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Makassar, Wakil Rektor Universitas Negeri Makassar, Wakil Rektor Universitas Muslim Indonesia, Dirut PT. Media Fajar Holding, DPP Forum Dosen Indonesia, Ketua Program Pasca STIE AMKOP, atas kehadirannya sebagai Pemateri dan Host pada Seminar Nasional dan Poster FDI DPD Sulawesi Selatan. Terima kasih pula kami sematkan kepada PT. Semen Tonasa, dan para Media: Fajar, Tribun, dan Media Online atas dukungan Sponsorship dan pemberitaan yang wacana yang kami sampaikan; Demikian pula kepada Steering Committee dari DPP FDI: Bapak Frederik, Bapak Hidayat Ely, Bapak Fitrah Jaya, dan Ibu Een Hardiani beserta Para Panitia dan Segenap Pengurus DPD FDI Sulsel.

Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengatakan jangan tanyakan bagaimana bentuk sinergi FDI DPD Sulawesi Selatan, maju terus dan berjalanlah, bahkan berlari, karena diperjalanan kita tidak akan pernah tau siapa yang akan kita temui untuk bersinergi bersama, dalam jangka waktu yang tak terhingga, dan tentu saja tetap dengan prinsip “push of quality”, dan bingkai pada ranah spesifikasi keilmuan. Menjadi dosen bukanlah sekedar profesi, ia adalah panggilan jiwa diselimuti keihklasan yang tak pernah didustai, sejauhmana kau berjalan, maka ia akan selalu menuntunmu kembali; selayaknya pula dalam bersinergi arahnya sudah jelas, jalurnya sudah terang, Insya Allah dengan “nawaitu” yang sama, Forum Dosen Indonesia DPD Sulawesi Selatan mengajak empat belas ribu Dosen di Sulawesi Selatan: Lets Fight for Quality, Bismillahirrahmanirrahim.

Agenda ke Depan