Forum Dosen Indonesia

Merupakan organisasi yang didirikan tanggal 24 Agustus 2013, bersifat independen yang tidak terikat langsung dengan institusi anggotanya dan berbasis teknologi informasi. Didirikan dengan maksud melakukan advokasi untuk tujuan pengembangan kualitas dosen dan pendidikan tinggi Indonesia.

Forum Dosen Indonesia di Internet

1) Kuning / Emas : Pendidikan, mencetak generasi emas Indonesia, 2) Biru Langit : Penelitian, seperti langit tanpa batas yg dapat dicapai sebatas kekuatan manusia, 3) Hijau : Pengabdian masyarakat yang lebih bersifat kerelawanan, bekerja demi amal, 4) Merah dan putih : Indonesia.

ORMAS Dosen Indonesia

Berawal dari Grup Dosen Indonesia di Facebook menjadi ORMAS Dosen

Selasa, 17 Maret 2020

Pengumuman Fasilitasi Kuliah Daring

Kepada Pengurus DPD dan anggota FDI se-Indonesia

Salam sejahtera, semoga kita semua berada dalam lindungan-Nya dan dapat menjalankan aktivitas tridharma perguruan tinggi sebaik-baiknya.

Menyikapi perkembangan pandemi Covid-19 saat ini, perguruan tinggi mulai mengeluarkan kebijakan pengurangan perkuliahan tatap muka di kampus. Dosen diarahkan untuk melakukan perkuliahan dengan memberikan tugas kepada mahasiswa atau melakukan perkuliahan secara online. Sebagai bentuk kontribusi terhadap kondisi yang ada, Forum Dosen Indonesia (FDI) menyediakan fasilitas kulian daring/online berupa video conference yang dapat diakses oleh anggota.

Untuk panduan teknis dan penjadwalan akan dilakukan per daerah oleh pengurus di daerah masing-masing. Untuk itu, silahkan menghubungi kontak sebagai berikut:
1. Aceh: Dr. Wahyuddin Albra (+62 852-7729-3755)
2. Sumut: Dr. Mulyadi (@+62 812-6315-231)
3. Jambi: Dr. Abdul Malik (08127852159/ WA 0895622929768)
4. Riau: Roki Hardianto (082384955233)
5. Kepri: Prof. Chablullah Wibisono ( 0811700503)
6. Sumsel: Dr. Desy  (089604899014)
7. Bengkulu: Parwito (081328676033)
8. Jakarta: Dr. Khamami Zada (@+62 812-8468-546)
9. Banten: Dr. Umi Kultsum (@UMI KULTSUM​)
10. Jabar: Rinda Cahyana +6281312131400
11. Jateng: Sarono Widodo (@+62 888-0655-6199)
12. Yogya: Prof. Djoko (@Djoko Budiyanto
13. Jatim: Dr. Nurida Finahari, MT. ( 08113649799)
14. NTB: Dodo Kurniawan ( 08135608219 )
15. Papua Barat: Dr. Ismail +6281315540777
16. Sulsel: Dr. Marhamah +628114449273
17. Sulbar:  Irfan AP, S.T., M.MT (081343862872)
18. Sulteng: Dr. Mochtar (082347264441)
19. Maluku:  Dr. Sientya Latumahina, S.Hut, MP, IPP (@Dr. Sientya.Latumahina)
20. Lampung: Prof. Tulus Suryanto, SE, Akt (081321246272)
21. Kalsel: Lena Hanifah (@L E N A)
22. Sumbar: Dr. Rozi Fitriza (@Rozi Fitriza)
23. Room DPP: Diandara (@Yori Uin)
24. Maluku Utara: Dr. Ricardo (@Ricardo FM)

Untuk rekan-rekan dosen lainnya, silahkan mendaftar untuk menjadi anggota FDI terlebih dahulu di http://fdi.or.id/
Semoga program ini bermanfaat bagi kita semua.

Unduh di sini

Jumat, 28 Februari 2020

FDI Gelar Workshop Blended Learning


Forum Dosen Indonesia menggelar "Workshop Blended Learning Model Sinkron dan Asinkron" bertempat di Ruang Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan (28/2) dengan pembicara Dr. Djadja Achmad Sarjana, ST, MM.

Acara dihadiri oleh 50-an peserta dari berbagai kampus di Jakarta dan sekitarnya yang mengikuti acara penuh antusias. Acara dibuka oleh Wakil Dekan FSH UIN Jakarta Dr. Syahrul A'dam dan sambutan oleh Ketua FDI Jakarta Dr. Khamami Zada dan Sekjen FDI Yanuardi Syukur mewakili Ketua FDI Dr Irma Sagala.

Sebelum masuk materi, acara diisi dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara FDI dengan FSH UIN dalam tridharma perguruan tinggi.

Pelatihan ini dirasakan sangat penting oleh peserta karena mereka dapat memadukan pembelajaran offline dan online menggunakan server fdi.kuliahdaring.id.

Berkas Perjanjian Kerja Sama FDI-FSH UIN Jakarta

Acara juga dibarengi dengan praktik kuliah daring. Menurut Dr. Djaja, metode blended learning sangat membantu para dosen dan mahasiswa, karena mereka dapat belajar dari handphone masing-masing.

Selain itu, mahasiswa juga bisa menjadi presenter atau berkomentar secara live. Hal ini berbeda dengan platform lainnya yang hanya bisa satu arah.

Menutup materinya, Dr. Djadja mengatakan bahwa "sekolah adalah tempat yang menyenangkan." Maka, metode pembelajarannya juga harus diusahakan menyenangkan.

Jumat, 21 Februari 2020

Pendidikan Jiwa Bangsa

Oleh: Ismail Suardi Wekke*
Sekelompok anak-anak pulang sekolah, baju merah putihnya dilepas dan dilempar ke atas batu. Tas sekolahpun disimpan di atas bebatuan. Siang itu terik. Mereka langsung loncat ke laut. Bermain, tertawa, dan kemudian saling mengejar.

Cita-citanya tak tinggi. Hanya membayangkan menjadi nelayan saja. Menggantikan ayahnya suatu saat nanti ketika sudah menua. Menyiapkan bahan makanan bagi keluarga, dan ikut menemani ibunda tercinta sesekali di dapur. Sembari bercerita tentang laut. ketika bayangan tentang dunia hanya terlintas ketika bertemu dengan wisatawan mancanegara yang melangkah ke Raja Ampat. Setelah itu, kembali asyik dengan dunianya sendiri.

Dunia dimana alam menjadi tempat bermain. Tidak perlu pusat pembelanjaan yang menjadi tempat untuk bermain. Perjalanan ke sekolah cukup dengan jalan kaki. Bahkan alampun menjadi kelas, ruangan sekolah berbagi dengan kelompok belajar lain secara bergantian. Sekolahpun tidak memerlukan komputer sebagai media pembelajaran. Guru tidak menceritakan tentang cendrawasih tetapi menunjukkan langsung sosok burung itu.

Itu gambaran sekilas anak-anak di kampung Saporkren, Raja Ampat, Papua Barat. Kalau tinggal di tepi laut, ya kemampuan berenang perlu dilatihkan sejak kecil. Bahkan bagi suku Bajo yang tinggal lebih banyak di laut, sejak masih orok sudah diceburkan ke laut.

Pendidikan sejatinya bagaimana seorang individu beradaptasi dengan lingkungan. Tak perlulah saya cerita tentang orang lain. Saya cerita diri saya sendiri. Pendidikan telah mengasingkan saya dari lingkungan sendiri.

Lahir di perbukitan Camba, Sulawesi Selatan. Dikelilingi sawah dan kebun kemiri. Tetapi karena menempuh Pendidikan sampai ke kota, akhirnya tak pulang kampung dan justru tidak bisa hidup di kampung. Pekerjaan yang ditekuni tidak ada urusannya di kampung.

Demikian pula anak-anak yang berenang tadi. Ketika mereka memasuki usia pendidikan sekolah menengah, harus meninggalkan kampung halaman. Berpindah ke pulau lain untuk mengeyam pelajaran sekolah menengah sampai pada Pendidikan tinggi. Mereka akan mengalami pergantian alam dan justru hidup di perkotaan dengan budayanya sendiri. Kehangatan keluarga dan kerabat harus ditinggalkan demi selembar ijazah yang menjadi syarat untuk pekerjaan. Hidup di asrama atau bahkan di kontrakan, demi harapan masa depan.

Jangan sampai pendidikan kita akan mengasingkan murid dari lingkungannya. Walau tetap diperlukan penguasaan teknologi tetapi bukan berarti konsumen teknologi. Maka, dalam konteks kemasyarakatan Pendidikan pesantren senantiasa berusaha relevan dengan kebutuhan masyarakat.


***

Bagi masyarakat Finlandia, Pendidikan terbaik bagi mereka tersedia di Finlandia. Sekolah dan lembaga pendidikan akan menautkan pengalaman belajar dengan lingkungan yang didiami. Institusi pendidikan menjadi pertemuan belajar dengan lingkungan yang menjadi tempat tinggal murid.

Selain itu pendidikan justru menjadi peluang untuk menyadarkan pelajar akan aspirasi lingkungan. Kita bisa menyaksikan Indonesia hadir hari ini sepenuhnya karena kesadaran para pelajar yang berlayar jauh ke negeri Belanda. Di masa mereka belajar, justru menyerap ide-ide pembebasan bangsa dari penjajahan Belanda.

Sekembalinya ke tanah air, pengalaman belajar yang diperoleh justru menjadi daya dukung untuk mengusahakan proklamasi. Akhirnya, kita menikmati kewujudan Indonesia sampai saat ini. Semuanya itu salah satunya dimulai dari bangku Pendidikan.

Pesantren As’adiyah di Sengkang, Sulawesi Selatan, mewajibkan alumninya untuk mengabdi di masyarakat selama setahun usai lulus dari jenjang Aliyah. Bahkan, setiap Ramadhan santri-santri disebar ke pelbagai wilayah sampai ke luar pulau Sulawesi untuk menjadi pelayan umat melalui tugas imam masjid dan juga ceramah. Begitu pula mengajar di madrasah diniyah.

Dari dua studi kasus ini menunjukkan sekali lagi bahwa Pendidikan merupakan instrumen masyarakat. Jangan sampai apa yang menjadi materi belajar di sekolah justru sama sekali tidak berhubungkait dengan kehidupan itu sendiri.

Manusia seperti burung. Tempat terbaik bagi burung adalah sarangnya sendiri. Bukan sarang burung lain. Pepatah memesankan “setinggi-tinggi burung kembali ke sarangnya jua”. Begitulah manusia, kemanapun pergi selalu terpaut hatinya dengan rumahnya sendiri. Maka, seorang murid keterpautan dengan lingkungannya yang merupakan “sarang”, itulah yang perlu diperkenalkan sejak dini. Bukan mengenalkan “sarang” orang lain.

Belanda mewajibkan setiap murid untuk terampil berenang. Bahkan ada uji kompetensi itu di sekolah dasar. Misal ini bukan tentang Belanda melainkan terkait dengan lingkungan. Negara Belanda dikelilingi oleh sungai-sungai. Ketika seorang warga tidak bisa berenang, bisajadi akan ada kasus kematian yang terjadi karena ketidakmampuan berenang. Maka, diwajibkanlah kemampuan berenang itu untuk dikuasai setiap warga sejak anak-anak sekalipun.  Termasuk kepada orang asing yang juga belajar di Belanda pada tingkatan sekolah dasar.

***

Lalu apa yang dapat kita lakukan?. Tindakan yang diperlukan adalah menghubungkan pengalaman belajar dengan keperluan lingkungan. Anak di daerah pesisir, perlu dilatih untuk mengenal ikan, termasuk bagaimana menjaga lingkungan perairan.

Begitu pula dengan kearifan lokal perlu diperkenalkan sejak dini melalui institusi Pendidikan. Seperti sasi di masyarakat Papua. Sasi merupakan tradisi berpantang untuk mengambil sesuatu dari alam. Baik berpantang dalam komoditas tertentu atau Kawasan tertentu dalam jangka waktu yang disepakati.

Bisa jadi, masyarakat pesisir Raja Ampat belum sampai ke revolusi industri 4.0. mereka bahkan masih menantikan listrik ataupun signal telepon, dan juga koneksi internet. Dalam konteks ini, mereka tidak memerlukan pidato tentang 4.0. Tetapi tetap bahagia dengan ketiadaan listrik. Walau belajar di malam hari kadang ditemani dengan temaram lilin saja.

Institusi Pendidikan melalui guru, perlu didorong untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan lingkungan masing-masing murid. Tidak harus sama dengan pulau lain, dimana alam dan lingkunganya yang juga berbeda. Termasuk bahan bacaan yang juga perlu didorong untuk diterbitkan secara regional. Tidak harus bacaan dari Jakarta dikirim ke Papua, dimana minat cerita yang tentu saja berbeda. Guru dilatih dan diberi kesempatan untuk menuangkan ceritanya sendiri ke buku yang akan dijadikan sebagai materi belajar.

Dinas Pendidikan yang juga mengemban kebudayaan diberi kesempatan memproduksi film dengan kerjasama swasta. Film-film yang dijadikan bahan ajar tidak harus bernuansa ibukota. Setiap pulau perlu memproduksi filmya sendiri-sendiri. Itu pulalah yang menjadi percakapan warga. Tak harus film seperti “Ada Apa dengan Cinta” yang menjadi percakapan bersama dari Merauke ke Sabang. Sesorongnya, produksi film beragam sebagaimana kebinekaan Indonesia.

Demikian pula soal lagu. Tak harus semuanya menyanyikan lagu Korea ataupun menggemari K-Pop. Koleksi lagu Indonesia yang berasal dari semua daerah, tidak kekurangan. Maka, mengenalkan dan mempromosikan lagu-lagu daerah sama bagusnya dengan mengenalkan lagu berbahasa asing. Begitu juga dengan lomba pidato bahasa Inggris, tetap penting. Sama pentingnya dengan lomba pidato bahasa daerah, sebagai contoh lomba pidato Bahasa Bugis bagi sekolah-sekolah di wilayah yang berbahasa Bugis.

Satu pertanyaan sebagai akhir. “Dapatkah manusia bisa hidup tanpa mengenal teknologi?” bisa saja. Kita bisa menyaksikan masyarakat Badui, begitu pula masyarakat Kajang. Keduanya memilih untuk tidak menggunakan teknologi. Hanya sepenuhnya hidup dengan menjaga kelestarian alam. Bukan menjauhi, tetapi memilih untuk menggunakan sekadarnya. Mereka tetap saja Bahagia dan bahkan tetap menikmati kehidupan ini.

Maka, teknologi bukan segalanya. Mengajarkan penggunaan teknologi bukanlah pelajaran wajib dalam hidup. Kewajiban setiap murid justu terletak pada bagaimana menjaga relasi dirinya dengan alam yang menjadi wujud dari hadirnya Allah. Ketika manusia mengenal alam, maka itu bagian dari usaha untuk mengenal Allah. Menjaga alam sesungguhnya menjaga kehidupan itu sendiri. Itulah yang menjadi tugas utama dan pertama Pendidikan. *

Ismail Suardi Wekke, Ketua DPD FDI Papua Barat.

Jumat, 31 Januari 2020

Menanti Arahan Haluan Pendidikan Bangsa

Oleh: Ismail Suardi Wekke, Ph.D*
Seratus hari berlalu sejak Kabinet Indonesia Maju sudah ditabalkan. Kita masih saja menanti “kemana arah pendidikan bangsa hendak dibawa?”. Setelah eksperimen lima tahun di 2014-2019 tidak lagi dilakukan, pemisahan antara pendidikan dasar dan menengah dengan pendidikan tinggi.

Sekarang secara administratif justru diwujudkan eksperimen baru, fungsi riset pendidikan tinggi diiplementasikan melalui Kementerian Riset dan Teknologi, sementara fungsi dua dharma lainnya dikoordinir Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Akankah perjalanan bangsa kita berlangsung dengan eksperimen dari kabinet ke kabinet?”.

Sebelum itu, kami hendak mengajak pembaca untuk menengok posisi pendidikan Indonesia dalam konteks bangsa. Pendidikan Indonesia diprakarsai oleh lembaga pendidikan keagamaan. Di masyarakat muslim, Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Persatuan Islam, Mathlaul Anwar, Tarbiyah Islamiyah, Darul Da’wah Wal Irsyad, Al Khairat, As’adiyah.

Sementara di masyarakat Katolik ada Atmajaya, Sanata Dharma, Charitas, Xaverius, Kanisius, De Britto, Pangudi Luhur. Juga di masyarakat Kristen terdapat Penabur, Huria, Eben Haizer, Duta Wacana, Immanuel, Petra.

Baik Masjid maupun Gereja, juga Pura bersama-sama menginisiasi lembaga pendidikan. Bahkan sebelum ada label negeri dalam sebuah intitusi pendidikan. Lembaga pendidikan yang dikelola masyarakat sudah lebih awal wujud bahkan tanpa pendanaan dari negara yang saat itu bahkan belum terlembagakan. Justru lembaga pendidikan keagamanlah yang menopang berdirinya negara kita.

Secara khusus, artikel kami menguraikan lembaga pendidikan Islam. Bukan berarti bahwa lembaga pendidikan keagamaan yang dikelola oleh masyarakat lain tidak berarti, tetapi kami yang tidak arif dalam kajian tersebut.

Lembaga pendidikan seperti Gontor, mampu bertahan sampai sekarang sejak 1926. Apa yang menjadi daya dukung? Diantaranya, Panca Jiwa pondok yang menjadi bagian dari “doktrin” pembelajaran. Bisajadi kita menyebutnya dengan istilah Pendidikan Karakter. Sejak awal pendirian sampai sekarang, doktrin itu tidak pernah berubah. Berarti dalam pendidikan perlu ada konsistensi. Bukan dengan uji coba semata. Untuk sebuah minyak angin saja tidak memungkinkan coba-coba, apalagi untuk pendidikan.

Tidak hanya di Gontor, lembaga pendidikan Islam tersebar di Tebuireng, Denanyar, Guluk-guluk, Kprayak, Mangkoso, Sengkang, Padang Panjang, Tamalanrea, Kombos. Sementara YAPIS di Tanah Papua tidak saja untuk masyarakat muslim tetapi bahkan warga Protestan dan Katolik juga turut bergabung di dalamnya. Lembaga pendidikan inilah yang justru menjadi institusi pendidikan dimana tidak semua anak bangsa dapat ditampung di pendidikan negeri.

Dengan demikian, ketika mendiskusikan pendidikan bangsa ini, pendidikan swasta, dan pendidikan keagamaan tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Sementara kementerian hanya berkutat pada pendidikan negeri semata. Lembaga Pendidikan tersebut bukan hanya fasilitator untuk keperluan administrasi Pendidikan semata, bahkan melampaui tugas Pendidikan. Lembaga berkenaan bahkan juga menjadi perekat harmoni kebangsaan.

Sementara Al Khairaat di Palu dan Nahdhatul Wathan di Lombok, ketika bencana melanda menjadi bagian masyarakat untuk penanggulangan bencana. Lembaga Pendidikan tidak berkutat di kelas semata tetapi juga memainkan peranan dalam mitigasi bencana dan juga proses recovery baik fisik maupun psikis.

Pendidikan bukan soal bekerja saja, tetapi menghubungkan antara pengalaman belajar dengan kehidupan nyata. Sehingga apa yang dipelajari di bangku sekolah, juga berasal realitas sehari-hari. Masyarakat yang berada di pesisir, tentu lebih memerlukan sekolah kejuruan dalam bidang perikanan dan kelautan, dan bukannya justru kejuruan dalam bidang pertanian. Jikalau terjadi ketidaksesuaian antara kehidupan nyata dengan pembahasan pelajaran di sekolah, itulah yang menjadi awal dari masalah pendidikan kita.

Slogan “link and match” sesungguhnya berada di sini, bukannya justru apa yang dipelajari hanya semata-mata perlu dikaitkan dengan kebutuhan industri semata. Kemampuan lulusan sekolah untuk hidup di masyarakatnya sendiri lebih diperlukan berbanding menyiapkan pekerja untuk diserap lapangan kerja. Padahal, bisajadi lapangan kerja yang ada, justru sudah berubah dengan materi yang diajarkan ketika proses pembelajaran sementara dilaksanakan.

Pendidikan berubah bukan pada kurikulum. Tetapi menymakan persepsi dalam rangka menghadapi tantangan zaman yang berubaha sesuai dengan keadaan zaman itu. Agenda kebangsaan juga mengalami dinamika sesuai dengan keadaan bangsa dan tantangan global yang senantiasa melingkupi.

Satu hal lagi, media pendidikan bisa saja berubah. Bahkan jargon 4.0 mulai digunakan sebagai bagian dari pidato para pejabat dan juga tema seminar. Namun, di balik itu pendidikan tetap seperti itu adanya sampai kiamat. Pendidikan sejatinya merupakan bagian kehidupan itu sendiri. Perabot boleh berbeda tetapi sikap manusia tetap saja sama.

Mari sejenak kita melihat masyarakat pesantren. Zaman berubah, teknologi berkembang, dan juga industri mengalami revolusi. Namun, sikap pesantren terhadap teknologi dan semua perubahan itu tetap saja sama. Menjadikan itu semua sebagai benda atau “keduniawiaan”, sehingga tidak menuhankan benda. Materi dianggap sebagai jalan kedekatan menuju Allah. Bukan justru mempertuhankan benda dan menyingkirkan manusia dari hati.

Pesantren merupakan Lembaga Pendidikan Indonesia yang justru tumbuh dari Rahim Indonesia itu sendiri. Sekali lagi kami menyebut Gontor. Ketika diasaskan, Gontor melakukan benchmark terhadap empat Lembaga yaitu Al-Azhar (Mesir), Syanggit (Mauritania), Aligarh (India), dan Santiniketan (India). Keempat Lembaga tersebut dengan kekhasan masing-masing dijadikan sebagai acuan dan diadaptsi ke dalam budaya Indonesia sendiri.

Studi kasus Gontor ini memberikan pesan bahwa sebuah Lembaga Pendidikan juga terkait dengan gagasan dan cita-cita pendiri. Begitu pulalah Indonesia, negara ini didirikan dengan cita-cita para pendiri bangsa. Salah satunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, Pendidikan kita perlu diarahkan untuk itu. Bukan hanya untuk menjadi pekerja industri.

Pendidikan Indonesia, tidak harus menjadikan satu-satunya tolok ukur seperti PISA ataupun urusan rangking lainnya. Demikian pula perguruan tinggi yang tak harus mengikuti perlombaan rangking. Kalaupun itu dipandang perlu sebagai bentuk ikhtiar untuk mendudukkan perguruan tinggi Indonesia bersanding dengan perguruan tinggi lain secara global, maka cukup dengan mandate yag diperluas. Tak perlu semuanya harus mengikuti perangkingan. Jika world class university menjadi satu acuan, ada acuan lain yang dapat digunakan seperti community based university, ataupun entrepreneur university. Model perguruan tinggi bukanlah tunggal hanya dengan perguruan tinggi riset. Model pilihan itu tentu untuk memenuhi keperluan masyarakat. Bukan untuk memuaskan keperluan masyarakat lain.

Sebagaimana penataan Kawasan ataupun kota bukanlah semata-mata untuk destinasi wisatawan. Bagian yang paling penting justru supaya penduduk dan masyarakat nyaman di kotanya sendiri. Bukan dengan menyiapkan kota itu untuk didatangi oleh orang lain dan tidak mempertimbangkan masyarakat sendiri sebagai penduduk. Ketika itu nyaman untuk warganya sendiri, maka pengunjungpun tentu akan nyaman.

Akhirnya, inilah yang menjadi ketidakpahaman kami jika ada suara yang menginginkan untuk berkiblat ke negara lain. Pertanyaan kami adalah “kenapa pula takjub dengan pendidikan luar negara, sementara kehidupan mereka justru berbeda sama sekali dengan pendidikan Indonesia?”.

Pendidikan perlu mengakar kepada keperluan masyarakat dan untuk keperluan masyarakat Indonesia sendiri. Bukan dengan takjub melihat pendidikan negara lain dan kemudian Pendidikan kita terasing di masyarakatnya sendiri. Jika itu terjadi, maka Pendidikan tak lagi menjadi sarana kehidupan tetapi justru menjadi mimpi buruk. Semoga itu tidak terjadi.*

*Ismail Suardi Wekke, Ph.D, 
Ketua DPD Forum Dosen Indonesia Papua Barat

FDI Kepulauan Riau Terbentuk, Prof. Chablullah Terpilih Sebagai Ketua

Pengurus FDI Kepulauan Riau 

Pembentukan FDI Riau berdampak pada terbentuknya FDI Kepulauan Riau. Mandat pembentukannya diberikan kepada Dr. B. Herawan Hayadi,S.Kom.M.Kom yang ditandatangani oleh  ketua umum FDI Dr. Irmawati Sagala,S.IP, M.Si.,MSHS pada 27 Janurari 2020 di Bandung.

"Setelah melakukan mekanisme panjang untuk penentuan kepengurusan FDI Kepri, maka alhamdulillah terpilih ketua Forum Dosen Indonesia (FDI) Kepri 2020-2023, Prof. Dr. Ir. Chablullah WIbisono, M.M," kata Dr. Herawan.

Prof Chablullah dibantu oleh Ketua I Dr. dr. Dahlan Gunawan.S.Ked., MARS. M.Kes, Ketua II Dr. Sumardin,M.Si serta Sekretaris Dr. B. Herawan Hayadi,S.Kom.M.Kom. Bendahara Andi Auliya Ramadyany,SE.,M.Ak.

Juga dibentuk bidang IT yang ditangangi oleh Muhammad Ropianto,S.Kom,.M.Kom.

Pembentukan pengurus diselenggarakan di Universitas Ibnu Sina pada 30 Januari 2020.

Peran FDI sangat bagus bagi dunia pendidikan sesuai dengan nilai-nilai strategis bagi pendidikan tinggi Indonesia. Juga sebagai organisasi profesi dosen yang bisa menjadi wadah lahirnya gagasan-gasan besar dalam pengembangan sistem pendidikan tinggi.

Outputnya antara lain berupa jurnal tentang higher education, evaluasi pearturan perundangan, naskah akademik bahkan rancangan peraturan perundangan terkait pendidikan tinggi dan profesi dosen.

Dr. Herawan mengatakan, "Dosen semestinya menjadi stakeholders penting dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tersebut, bukan hanya sebagai objek bahkan proyek peraturan yang kadang di luar nalar akademik. Menjadi mitra pemerintah dalam pengembangan pendidikan tinggi dan mutu dosen, misalnya sebagai sarana alternatif dalam jaminan kualifikasi dosen dan lainnya."

Menurutnya, FDI dapat menjadi fasilitator dan motivator lahirnya karya-karya akademik bermutu dan bermanfaat bagi bangsa. Bagi institusi Perguruan Tinggi, FDI dapat menjembatani interaksi civitas akademika lintas kampus dalam melakukan kerjasama-kerjasama Tridharma PT baik secara institusional maupun personal.

Ketua dan Sekretaris FDI Kepri

Output dari interaksi ini akan bisa secara langsung dirasakan oleh civitas kademika dan juga dalam peningkatan image kampus. Beberapa point penilaian akreditasi misalnya, akan sangat terbantu dengan keaktifan dosen dalam organisasi profesi beserta jejaringnya. Bahkan “sekedar” kartu anggota organisasi profesi pun bisa membantu mengisi borang akreditasi.

FDI juga menurutnya dapat sebagai wadah membangun jejaring karya Tridharma dan aktualisasi diri yang outputnya akan sangat bermanfaat membantu memenuhi beban kerja dosen. Program kuliah daring FDI, panitia seminar dan pengelola jurnal misalnya, bisa digunakan sebagai kegiatan PkM atau kegiatan penunjang dalam laporan kinerja dosen (LKD).

Sesama anggota juga bisa melakukan kegiatan penelitian kolaboratif lintas perguruan tinggi serta kegiatan-kegiatan akademik lainnya. Sebagai sarana koordinasi dan gerak bersama dalam penguatan profesi dan penyelesaian permasalahan-permasalahan di lingkungan dosen. [b/ys]

Agenda ke Depan

Agenda ke Depan