Sabtu, 18 Januari 2014

Proses Pembentukan Forum Dosen Indonesia 1




Tahun 2010 (?) Bapak Djoko Luknanto (https://www.facebook.com/djoko.luknanto?fref=ts) membentuk group face book dengan nama Group Dosen Indonesia  https://www.facebook.com/groups/DiktiGroup/  sebagai pengembangan dari milist Dikti. Untuk mengelola grup tersebut, pak Djoko mengajak beberapa rekan dosen sebagai admin.

Diskusi grup berjalan dinamis dengan jumlah anggota terus bertambah. Tema perbincangan variatif sekali dan sangat ramai, bahkan tak jarang disertai perdebatan sengit khas para dosen. Suasananya luar biasa. Kemudian muncullah ide dari beberapa admin, khususnya (alm) Pak Sukanto Tedjokusuma (https://www.facebook.com/tedjokusuma?fref=ts) untuk membentuk sub grup yang mengakomodir tema-tema tertentu sehingga tema diskusi GDI tidak terlalu “crowded”. Di antara sub grup yang awal dibentuk adalah Forum Guru Dosen yang membahas sinergisasi pendidikan dasar-menengah dengan pendidikan tinggi, Forum Asosiasi Dosen (FAD) yang membahas organisasi profesi dosen, dan Forum Out Of Topic (FOOT) yang khas untuk sarana segala perbincangan informal dan humor.


Pada awal dibentuk (sekitar Mei 2011), Forum Asosiasi Dosen (FAD) https://www.facebook.com/groups/ForumAsosiasiDosen/ diisi dengan diskusi yang hangat. Pada waktu itu, banyak anggota mulai menyampaikan gagasan-gagasan idealismenya. Dan ternyata, umumnya angggota FAD belum tahu kalau sudah ada organisasi profesi dosen yang bernama Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) yang berdiri sejak tahun 1998. Perbincangan semakin hangat, terutama seputar bagaimana kiprah ADI selama ini, lalu apakah anggota FAD akan beramai-ramai bergabung dengan ADI atau membuat organisasi alternatif yang baru. Beberapa anggota FAD (diantarnya Irma Sagala https://www.facebook.com/irma.sagala.9?fref=ts dan Yuli Adam Prasetyo https://www.facebook.com/yadamp?fref=ts) sempat berencana hadir dalam Kongres ADI tahun 2012 di Batam. Namun karena kendala waktu yang bertepatan dengan masa masuk kerja setelah libur lebaran, maka tidak jadi hadir. Berikut saya kutipkan uraian panjang Bos Kanto (panggilan akrab anggota FOOT untuk almarhum) :

“Bu Irma Sagala dan Bapak/Ibu sekalian, sebelum membuat FAD ini saya sudah tahu ttg ADI. Sudah beberapa kali keberadaannya di-sebut² di group DI. Sekalipun demikian, saya tetap melihat ada positifnya membuat forum khusus yang membicarakan ttg asosiasi dosen. Kenapa begitu? Yang pertama tentunya karena beberapa kawan group DI ingin  membahasnya. Kedua, hasil evaluasi sederhana tentang ADI. Sebelumnya saya mohon maaf kepada pengurus ADI yang mungkin sudah bergabung ataupun yang nantinya akan bergabung di forum ini, karena dalam diskusi², ADI sebagai asosiasi dosen yang sudah eksis secara hukum pasti tidak dapat dihindarkan untuk dijadikan salah satu benchmark untuk keperluan evaluasi. Dan sesuai prinsip dasar evaluasi yang baik, maka harus diidentifikasi kelebihan dan kekurangannya secara komprehensip. Jadi kalau dalam diskusi terjadi pembahasan tentang kekurangan ADI maka mohon jangan diartikan sebagai men-jelek²kan ADI. Kalau ada sesuatu yang dianggap bisa dipakai untuk meningkatkan ADI maka silakan saja diadopsi yang tentunya dengan tidak melupakan pihak² yang telah berkontribusi terhadap hal tersebut. Selanjutnya, saya sambung lagi tentang evaluasi sederhana saya terhadap ADI. Kalau kita lihat struktur organisasinya maka terlihat sudah sangat baik, baik itu cakupan daerahnya maupun kompetensi akademis personel² yang duduk sebagai pengurus. Status berbadan hukum juga menunjukkan keseriusan founder ADI. Namun, sekilas telah nampak adanya indikasi yang menunjukkan bahwa roda organisasi belum berjalan seperti yang seharusnya bisa dicapai. Berarti, ada sesuatu yang kurang. Apa itu? Mari kita coba identifikasikan sama². Jadi, berdasar pada 2 pertimbangan di atas saya setuju² saja ketika kawan² mengusulkan adanya FAD ini.” (June 8, 2011 at 9:33pm)

“Kehadiran Forum Asosiasi Dosen jangan diartikan sebagai bakal lahir asosiasi dosen baru. Masih banyak alternatifnya. Demikian kira² yang saya sampaikan sebelumnya di group DI dan saya ulangi lagi tadi. Ijinkan saya dalam kesempatan ini untuk menguraikan lebih lanjut tentang apa yang saya maksud dengan "masih banyak alternatifnya". Ibu/Bapak mungkin sudah mulai merasakan rumitnya pertanyaan² yang saya lemparkan dalam forum ini. Padahal, itu baru awal saja dari diskusi panjang yang harus dilakukan untuk menghasilkan visi/misi, AD/ART, rencana strategis jangka panjang dan rencana strategis jangka pendek yang merupakan prasayarat dari suatu organisasi yang sehat. Pendek kata, paling tidak diskusi ini bakal berjalan ber-bulan² sebelum kita bisa menghasilkan draft dari dokumen² di atas. Sampai di sini saja mungkin sudah mengagetkan sebagian dari Bpk/Ibu sekalian. Tentunya setelah bersusah-payah seperti itu kita tidak ingin asosiasi dosen yang menurut kita ideal itu hanya eksis di dalam kertas, tapi kita ingin asosiasi itu benar² eksis karena kita semua menyadari bahwa kita bakal memperoleh manfaatnya. Tapi, di lain pihak, kita juga sudah bisa membayangkan betapa banyak usaha yang harus dicurahkan untuk membuat roda organisasi bisa berjalan seperti yang direncanakan. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak buru² memutuskan untuk membuat sendiri asosiasi tersebut karena masih ada alternatif² lain. Alternatif pertama, kita bawa konsep ke pengurus ADI. Kita bisa jelaskan bahwa kita, sekelompok dosen, telah berhasil menyusun konsep asosiasi dosen yang menurut kita ideal dan bakal didukung oleh banyak dosen. Tentunya yang dimaksud dengan dukungan tidak hanya sebatas pada vote tetapi perlu sampai diasosiasikan dengan kesedian menjadi anggota. Kalau memang seandainya ADI bersedia mengadopsinya sehingga terbentuk ADI++ maka kita tinggal mendaftar menjadi anggota saja. Sebagian mungkin bakal ditarik menjadi pengurus ADI++. Alternatif kedua, kalau jumlah SDM bisa terkumpul cukup, maka sebagian dari kita membentuk sendiri asosiasi dosen baru, dengan konsekuensi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan tentunya lebih banyak. Alternatif ketiga, kalau seandainya SDM yang terkumpul tidak mencukupi untuk membentuk asosiasi sendiri, maka bisa saja dikolaborasikan ataupun 'diberikan' kepada pihak lain di luar forum ini yang mampu untuk mengimplementasinya. Demikian sedikit elaborasi dari pernyataan singkat saya sebelumnya.” (8 Juni 2011).

Waktu itu, perbincangan bertahan hangat beberapa bulan, membuahkan tawaran-tawaran konsep. Namun belum sampai pada tahap eksekusi tindakan karena berbagai kendala realitas dosen.

Perbincangan di FAD pun perlahan sepi. Berbeda dengan perbincangan di FOOT yang ramai sepanjang hari, penuh tawa. Salah satu traadisi yang terbangun di FOOT adalah kopdar alias bertemu dengan sesama anggota ketika sedang ada agenda ke suatu daerah. Silaturrahim di FOOT memang unik, dan dilengkapi “Ospek”. Bahkan, saling berkirim souvenir adalah hal sangat lumrah dilakukan. Dengan semangat persatuan di FOOT, maka dilaksanakanlah pertemuan I di Surabaya tanggal 31 Mei 2012 dan melahirkan Forum Komunikasi Dosen Indonesia Wilayah Timur (FKDI-WT). Sayangnya, forum ini tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Namun demikian, semangat forum ini terus hidup di hati para anggota yang umumnya juga bergabung di FAD.

Beberapa kali perbincangan membentuk organisasi kembali mencuat sepanjang tahun 2011-2013, hingga semakin mengerucut sekitar bulan April 2013. Selanjutnya disepakatilah pertemuan tanggal 23-24 Agustus 2013 di STSI Bandung. Cukup banyak yang merespon dan berencana hadir. Rekening persiapan biaya pun dibuka. Dari kiriman dengan angka yang unik-unik, terkumpul dana Rp. 5.820.329 dari 31 orang anggota. Pertemuan Bandung pun terlaksana dengan dihadiri 16 anggota, yaitu:
  1. Dr. I Gde Nyoman Merthayasa, M.Eng (ITB)
  2. Dr. Een Herdiani, M.Hum (STSI Bandung)
  3. Ir. Gatut Rubiono, MT (Universitas PGRI Bayuwangi)
  4. Yuli Adam Prasetyo, M.Kom (STT Telkom)
  5. Irmawati Sagala, S.IP, M.Si (IAIN Jambi)
  6. Ricardo Freedom Nanuru, M.Phil (Universitas Halamhera)
  7. Amril Arifin SE, M.Si. Ak (STIE YPUP)
  8. Monica Mayeni, S.Kom (UST Jayapura)
  9. RA. Halimatussa’diyah, ST, M.Kom (Politeknik Negeri Sriwijaya)
  10. Dr. Nurida Finahari, MT (Univ. Widyagama Malang)
  11. Fitra Jaya (UMI Makassar)
  12. Ir. Heru Prastawa, DEA (Undip)
  13. Desy  Misnawati, M.Kom (Universitas Baturaja, Sulsel)
  14. Dr. Abdul Haris, MT (Unmul)
  15. Dr. Djadja Sardjana (ITB)
  16. Budi Setiawan, M.Si (STIE Kesatuan)
  17. Peserta tidak full: Kodrat Wibawa (Unpad), dan beberapa dosen STSI Bandung. Sebagai narasumber hadir Dr. Megawati Santoso (ITB).
Pada pertemuan tersebut, disepakati membentuk organisasi dengan nama Forum Dosen Indonesia (FDI) dan segera dibuat akta notaris. Pada pertemuan tersebut juga, dibentuk kepengurusan pertama sampai pelaksanaan Musyawarah Nasional I yang sementara direncanakan di Jawa Timur.

Setelah kesuksesan pertemuan Bandung, suasana FAD-FDI sempat sepi, hingga akhirnya dilaksanakan penandatanganan akta notais di Bandung pada tanggal 8 Januari 2014 dengan AD/ART dan susunan pengurus pusat hasil pertemuan di Bandung sebelumnya.

Sumber : Irma Sagala

Agenda ke Depan