Minggu, 20 Maret 2016

GIZI SEIMBANG BAGI DOSEN

OLEH :IR. LAKSMI WIDAJANTI, M.SI (DEP. ILMU GIZI FKM UNDIP)

Dosen pendidik dapat dikatakan sebagai dosen ideal.  Sebagai pendidik dosen menerapkan filosofi Ki Hajar Dewantara; Ing Ngarso Sung Tulodho (Di depan memberikan contoh keteladanan integritas-karya-karsa), Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah membangun komunikasi dan informasi untuk menggerakkan diri dan masyarakat secara efektif esien mencapai tujuan bersama), Tut Wuri Handayani (Di belakang memberikan restu dan mengikuti segenap kegiatan yang baik dan benar dari anak didiknya termasuk terhadap yang memimpin di depan dan berkegiatan di tengah serta memastikan tujuan bersama dicapai).
     Sebagai dosen pendidik, pembelajaran pertama dimulai dari diri sendiri melalui pemilihan kata-kata dan kalimat dalam bentuk ucapan maupun tertulis yang baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat.  “Ajining diri gumantung ono ing lathi”; penghargaan diri oleh diri sendiri dan orang lain ditentukan dari kualitas apa yang diucapkan oleh lisan. Termasuk di dalamnya kaidah moral, etika, integritas diri, kearifan dan kebijaksanaan yang melekat pada diri dosen.  Kata kuncinya tidak ada manusia yang sempurna sehingga membutuhkan pembelajaran terus menerus untuk mencapai dengan baik kriteria ini.
Mengingat kegiatan dosen dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi berlangsung terus menerus secara intens, maka diperlukan kecukupan gizi sehari-hari agar tetap sehat, cerdas, dan produktif.
Pedoman Gizi Seimbang (PGS) bertujuan untuk memberikan panduan konsumsi makanan sehari-hari dan berperilaku sehat berdasarkan prinsip konsumsi anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik, dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal. Terdapat empat pilar Gizi  Seimbang yaitu : 1. Mengonsumsi aneka ragam pangan, 2. Membiasakan perilaku hidup bersih,    3. Melakukan aktivitas fisik, 4. Memantau berat badan (BB) secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal (Permenkes RI No. 41 Tahun 2014).
Memperhatikan apa yang akan dimakan apakah halal atau tidak, khususnya bagi Muslimin. Karena dalam Ilmu Gizi berlaku motto “You Are What You Eat”; anda adalah apa yang anda konsumsi, sehingga nampak dalam kesehatan dan perilaku keseharian seseorang. Kesehatan fisik dan mental dosen, serta produktivitas sosial dan ekonomi seseorang dapat dilihat  dari kehalalan makanan, minuman yang dikonsumsi harian, termasuk bila diperlukan suplemen pada hari-hari penuh kesibukan maupun dalam kondisi kesehatan memerlukan tambahan asupan zat gizi di atas kecukupan rata-rata.
     Bersyukur atas kesempatan mendapatkan rezeki sehingga  dapat mencukupi konsumsi makan-minum sehari-hari.  Kebiasaan sarapan pagi di bawah pukul 9 pagi dengan enak dan nyaman;  menentukan kualitas produktivitas sosial dan ekonomi seorang dosen dalam keseharian dan dalam jangka waktu panjang.  Melewatkan sarapan pagi dapat mempengaruhi status gizi diri dosen. Dengan asumsi rata-rata masyarakat termasuk dosen Indonesia makan malam terakhir sekitar pukul 7 malam.  Jadi bila pukul 6-7 pagi waktu setempat sarapan, maka sudah hampir 11-12 jam tubuh dalam kondisi tidak mengkonsumsi zat gizi dari makanan, minuman, maupun suplemen; melainkan mengandalkan metabolisme zat gizi dari cadangan zat gizi yang ada dalam tubuh.
Sarapan atau makan pagi dosen dapat mencukupi 15-30 % dari kecukupan gizi harian dengan menyesuaikan kebiasaan makan, lingkungan, sosial budaya, serta daya beli masing-masing.  Contoh sarapan pagi untuk hidrasi dan sumber energi  tubuh dimulai dengan minum satu gelas teh manis, atau satu cangkir kopi manis, dan minum air putih minimal dua gelas di pagi hari.  Ditambahkan sumber energi, protein, dan zat gizi pelengkap berupa dua-tiga potong sedang ubi jalar, singkong goreng, pisang, pisang goreng, roti bakar, dan juga dapat berupa nasi uduk, nasi goreng, pempek kapal selam, nasi dan lauk pauk.
Apabila sarapan pagi dan makan secara teratur dilaksanakan secara rutin sesuai kebiasaan makan dan adat budaya masing-masing dosen untuk menyuplai energi dan zat gizi terbesar dalam siklus metabolisme zat gizi guna menghasilkan energi untuk bekerja seharian. Pada akhirnya, kebiasaan rutin ini akan menghasilkan ASN atau PNS yang secara fisik dan mental kuat dan tidak mudah jatuh sakit akibat energi yang cukup dan sistem kekebalan yang baik dari asupan zat gizi sehari-hari yang cukup.
Kebiasaan hidup dosen dengan perilaku hidup bersih dan sehat terhadap diri dan lingkungan. Membiasakan cuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir sesaat sebelum dan sesudah makan, dan setelah dari kamar mandi sangat menunjang kebersihan diri sehingga menghindarkan dari penyakit infeksi. 
Menjaga dan membiasakan lingkungan rumah, tempat kerja, fasilitas umum dan khusus tetap bersih dari sampah, maupun dari asap rokok dan bahan berbahaya lainnya.  Membuang sampah pada tempat yang disediakan dan tidak membuang sampah secara sembarangan apalagi di tempat-tempat saluran air.  Membatasi penggunaan sampah plastik dan bahan yang tidak ramah lingkungan.  
Bagi dosen tidak merokok dan bila merokok hanya di tempat yang ditentukan. Kebiasaan membersihkan sisa-sisa bebersih kotoran dengan air yang tersedia secukupnya sehingga kamar mandi tetap bersih dan siap digunakan pengguna berikutnya baik di rumah, di kantor, dan apalagi di fasilitas umum.
Di samping kegiatan rutin bekerja, maka dosen dapat melakukan aktivitas fisik rutin minimal 30 menit dengan menyesuaikan kemampuan tubuh setidaknya  empat kali dalam seminggu. Kondisi dosen yang sehat secara jasmani dan rohani mempermudah untuk bekerja. 
Pemantauan berat badan secara teratur minimal satu bulan sekali sehingga dapat diketahui Indeks Massa Tubuh (Perbandingan berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat) seorang dosen termasuk kategori normal (IMT 18,5-25,0), kurus dan sangat kurus (IMT di bawah 18,5), atau gemuk dan obese (IMT di atas 25,0).
Dengan berniat dan berupaya bekerja sungguh-sungguh dengan pertolongan Allah SWT, Tuhan YME untuk meminta kemudahan dan kelancaran dalam mempersiapkan dan melakukan proses dan penilaian pembelajaran dengan baik. Dimulai dari membuat perencanaan program pembelajaran baik itu Garis-garis Besar Pokok Pembelajaran (GBPP), Satuan Acara Pembelajaran (SAP), dan Kontrak Pembelajaran (KP) sebelum melakukan Perkuliahan.  Garis-garis Besar Pokok Pembelajaran (GBPP) dan SAP diperbaharui bila ada Peraturan Perundangan yang baru, dan minimal tiap dua tahun sekali ditinjau relevansinya dengan “Learning outcome” atau Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sesuai level pendidikan dan lulusan.  Untuk KP dapat dilakukan pembaruan pada topik dan subtopik sesuai dengan tema terbaru yang akan dibelajarkan sehingga dibuat persemester tiap mata kuliah muncul.
Proses bersikap, berfikir, dan bertindak dosen bersama dengan mahasiswa membutuhkan dukungan gizi yang cukup bersamaan dengan kecukupan referensi, dukungan empati dan fasilitasi dari berbagai pihak, jaringan kerjasama, komunikasi yang baik dan menyenangkan yang dapat dilakukan secara tatap muka maupun lewat online. Melakukan Aplikasi Tindakan Kelas secara berkala di dalam kelas bila dibutuhkan untuk pembaruan metode pembelajaran sehingga menyenangkan dan mudah diterima mahasiswa untuk berubah dan berbuat kebaikan dalam mencapai kompetensi.
 Berbuat dan bekerja dengan dukungan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS) yang diperoleh dosen dalam proses hidup, pembelajaran, pergaulan, kerjasama di level terkecil hingga nasional, dan bertahap ke ranah internasional akan memberikan dorongan luar biasa kepada dosen dan mahasiswa untuk bergerak dan berkembang pesat dalam arahan dan keteladanan dosen dan bahkan kreativitas tanpa batas kepada mahasiswa. 
Sekali kepercayaan dan harga diri keilmuan muncul pada diri dosen dan mahasiswa (civitas akademika), maka akan menjadi dorongan untuk terus menerus maju tumbuh dan berkembang guna mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.  Kalau hal yang seperti itu bisa dan dapat diterima oleh hampir semua kalangan, maka akan ada keberanian lebih untuk melangkah dan melangkah lagi lebih panjang dan jauh, lebih luas dan meluas dalam hal kebaikan-kebaikan dan kebenaran-kebenaran dalam penyebaran IPTEKS.
Dosen pendidik membutuhkan dukungan keadilan sosial untuk tumbuh dan berkembang dalam menyebarkan IPTEKS sebagaimana harapan bangsa dan negara Republik Indonesia yang disandarkan kepadanya. Berbagai pujian dan dorongan untuk maju terhadap hal-hal yang telah dan akan dikerjakan akan memberikan suasana kebatinan yang menyenangkan untuk bekerja dan berkarya. Semoga.

Agenda ke Depan