Sabtu, 07 Mei 2016

GIZI DAN PRODUKTIVITAS

Oleh: Laksmi Widajanti (Dosen Dept. Ilmu Gizi FKM UNDIP, email: laksmiwidajanti@gmail.com)

Peran gizi pada produktivitas kerja sudah dibuktikan di USA  oleh Berg and Muscat (October 21, 1971) dalam artikel ilmiah dengan judul “An approach to nutrition planning” yang dipersiapkan dan dipresentasikan di International Conference on Nutrition in Massachussets Institute of Technology, Cambridge, Massachussets dan dipublikasikan dalam Am J Clin Nutr-1972-Berg-939-54.pdf.
Di Indonesia, Ahli Gizi yang mendalami Produktivitas Kerja antara lain Suharjo (Alm) dengan judul Publikasi Disertasi : “Pengaruh Intervensi Besi Terhadap Pemetik Teh di Kabupaten Bandung,Provinsi Jawa Barat”. (http://repository.ipb. ac.id/ handle/ 123456789/1368). Darwin Karyadi (Alm) melakukan penelitian dengan judul :”Anemia Gizi Besi dan Produktivitas pada Pekerja Penoreh Karet di Jawa Barat” kerjasama dengan  Nevin Scrimshaw dari MIT dan World Bank serta dipublikasikan di Am J Clin Nutr-1979;32:916-25. Mahdin Anwar Husaini, melakukan penelitian “Suplementasi Zat Gizi pada Atlit Bulu Tangkis Muda untuk meningkatkan Ukuran Tubuh, Status Besi, dan Tampilan Fisik pada Tahun 1996/1997” didanai Technologies International, St. Louis, USA.    
Produktivitas kerja mengacu kepada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan adalah produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Hidup produktif secara sosial dimaksudkan sebagai kemampuan seseorang memberikan apa saja yang dimiliki baik itu ide, ilmu, pendampingan, mempermudah akses orang lain atau masyarakat untuk maju dan berkembang, jaringan, kerjasama, fasilitasi, perhatian, dukungan, kemudahan dan kecepatan pelayanan.  Berdasarkan sumberdaya spesifik lokal dan ditunjang teknologi tepat guna.
Hidup produktif secara ekonomis dimaksudkan kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu keuntungan atau uang, dan jasa, serta peluang untuk memperbesar keuntungan kepada diri maupun orang lain sesuai bidang kompetensi, profesionalisme, dan hobi serta kesenangan secara halal sehingga meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dan bangsa.
     Secara skematik dapat dijelaskan peran gizi dalam peningkatan produktivitas sosial dan ekonomis seseorang individu, keluarga, dan masyarakat dimulai dari konsumsi pangan dan gizi yang terkandung : kehalalan pangan, keamanan pangan, keragaman pangan, kecukupan gizi, dan mutu gizi (Gambar 1).


Gambar 1. Hubungan Konsumsi Gizi dengan Produktivitas
               Kerja Seseorang dan Masyarakat

     Seseorang yang mengkonsumsi pangan didasarkan pada pemenuhan kebutuhan sensoris agar tidak lapar.  Meskipun dibalik itu bagi mereka yang sadar akan gizi dan kesehatan serta bagi Muslim hal pertama kali yang dipertimbangkan adalah kehalalan, kemudian keamanan, keragaman pilihan pangan yang dikonsumsi, serta mutu gizi pangan apakah berasal dari bahan alami, nabati, hewani. Mutu gizi menentukan absorbsi dan metabolisme zat-zat gizi yang optimum di dalam tubuh.  Secara umum pangan hewani memiliki tingkat absorbsi gizi yang lebih baik dari pangan nabati.
Sajogjo pada Tahun 1977 membuat dasar kemiskinan dinamakan  “Garis Kemiskinan Sajogyo”.  Kelompok  miskin adalah rumah tangga yang mengkonsumsi pangan kurang dari nilai tukar 240 kg beras setahun perkepala di pedesaan atau 369 kg di perkotaan setara 2100  kkal atau sekitar 550 gram (0,5 kg) beras mutu sedang perorang perhari. Hal ini bila berlaku asumsi 100 % konsumsi sumber energi dari karbohidrat dipenuhi dari beras.
     Produktivitas kerja menjadi pembahasan penting dalam pengembangan kualitas sumberdaya manusia, karena menurut Wanjek (2005) dari International Labour Organisation (ILO) faktor Gizi menjadi salah penentu kualitas Sumberdaya manusia dan pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas produktivitas bangsa sebagai daya ungkit untuk memenangkan persaingan global (Gambar 2).


Gambar 2. Lingkaran Gizi Kurang dengan Produktivitas Nasional
             (Wanjek, 2005)


Memberikan jaminan minimal hidup layak kepada dosen memberikan kesempatan dosen untuk membelanjakan uang dan pendapatan bagi diri dan keluarganya disertai pengetahuan yang cukup tentang gizi untuk menjamin kesehatan diri dan keluarganya untuk hidup produktif sebuah solusi cerdas bagi pengembangan sumberdaya kesehatan dosen.

Agenda ke Depan