Forum Dosen Indonesia

Merupakan organisasi yang didirikan tanggal 24 Agustus 2013, bersifat independen yang tidak terikat langsung dengan institusi anggotanya dan berbasis teknologi informasi. Didirikan dengan maksud melakukan advokasi untuk tujuan pengembangan kualitas dosen dan pendidikan tinggi Indonesia.

Forum Dosen Indonesia di Internet

1) Kuning / Emas : Pendidikan, mencetak generasi emas Indonesia, 2) Biru Langit : Penelitian, seperti langit tanpa batas yg dapat dicapai sebatas kekuatan manusia, 3) Hijau : Pengabdian masyarakat yang lebih bersifat kerelawanan, bekerja demi amal, 4) Merah dan putih : Indonesia.

ORMAS Dosen Indonesia

Berawal dari Grup Dosen Indonesia di Facebook menjadi ORMAS Dosen

Rabu, 14 Desember 2016

SEMINAR NASIONAL II DAN RAPAT KERJA; FDI Tetapkan Tiga Program Unggulan di 2017

Seminar nasional dan rapat kerja tahun 2016 Forum Dosen Indonesia (FDI) telah selesai dilaksanakan pada tanggal 8-9 Desember 2016 lalu. Seminar nasional yang merupakan agenda tahunan FDI dilaksanakan pada hari pertama bertempat di aula Fakultas Teknik kampus III Universitas Widyagama Malang, dengan tema “Rekonstruksi Peradaban Nusantara, Menghidupkan Kejayaan Majapahit”. Acara yang dihadiri sekitar 80 orang peserta dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia tersebut dibuka oleh Wakil Rektor I, Prof. Dr. Ir. Sukamto, MS dan dihadiri juga oleh Dirjen Belmawa Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, Prof. Intan Ahmad, Ph.D.
Tampil sebagai pembicara utama seminar yaitu Dr. Hj. Een Herdiani, S. Sen, M. Hum  dari Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Dr. I Gde Nyoman Merthayasa  dan Institut Teknologi Bandung dan Dr. Titik Inayati, SE., MM. dari Universitas Islam Majapahit Mojokerto. Setelah istirahat siang, sesi seminar dilanjutkan dengan presentasi 75 makalah yang lolos seleksi dari total 91 naskah yang masuk. Keseluruhan naskah yang lolos diterbitkan dalam prosiding ber-ISSN dan dipublikasikan secara online pada website FDI. Kegiatan ini diharapkan akan meningkatkan semangat dosen-dosen di Indonesia dalam menulis karya ilmiah serta memasilitasi publikasinya.
Foto bersama pada penutupan kegiatan seminar

Adapun rapat kerja dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 9 Desember di Padepokan Mangun Dharma Kecamatan Tumpang, asuhan Ki Sholeh. Rapat kerja dihadiri oleh 31 orang peserta dari 8 kepengurusan daerah yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, 3 daerah yaitu Banten, Sulawesi Tenggara dan Papua, tidak mengirim utusan dikarenakan kendala jarak dan kepadatan agenda akhir tahun di beberapa kampus. Sampai saat ini, FDI sudah memiliki 11 kepengurusan daerah (DPD) dan dalam waktu dekat akan diresmikan 3 kepengurusan daerah baru yaitu Sulawesi Barat, Bengkulu dan Sulawesi Tengah. Sepanjang tahun 2017 mendatang, FDI menargetkan sudah memiliki cabang di 17 provinsi, atau 50 % dari total provinsi di Indonesia. Oleh karena itu, mulai tahun 2017 mendatang, FDI akan meningkatan sosialisasi serta memperbarui mekanisme keanggotaan.
Suasana Rapat Kerja

Dalam raker dibahas beberapa agenda unggulan, yaitu:
1.    Konferensi internasional yang akan dilaksanakan di Makassar pada bulan Agustus tahun 2017 dengan tema kemaritiman.
2.    Penerbitan jurnal meliputi:
a.       Jurnal yang dikelola pengurus pusat dengan bidang bahasan terkait pendidikan tinggi dan keprofesian dosen (jounal on higher education).
b.      Jurnal yang dikelola pengurus daerah dengan bidang kajian keilmuan spesifik sesuai dengan karakter dan potensi daerah terkait.
3.    Optimalisasi website FDI untuk mendukung profesionalisme dan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi kegiatan:
a.       Kuliah bulanan online tentang keprofesian dosen meliputi tema sosialisasi peraturan perundang-undangan terkait, sistem penjaminan mutu, sertifikasi dan kepangkatan, metode pembelajaran dan lainnya. Kuliah diampu oleh anggota FDI yang berkompeten dan dapat diikuti oleh dosen-dosen yang berminat.
b.      Pertukaran dosen tamu, yaitu anggota FDI memberikan kuliah secara online di kampus lain sesuai bidang keilmuan sebagai upaya pertukaran atmosfir akademik dan keilmuan antar perguruan tinggi.

c.       Kolom konsultasi seputar pendidikan tinggi dan profesi dosen.
Pada kesempatan rapat kerja ini juga, dibicarakan persiapan suksesi kepengurusan beberapa daerah serta koordinasi agenda daerah-daerah untuk tahun 2017. Masing-masing daerah akan melaksanakan kegiatan-kegiatan berbeda dan mendorong terjalinnya kolaborasi dosen lintas perguruan tinggi dan lintas daerah. Selain agenda-agenda tersebut, juga dibahas upaya peningkatan kerja sama dengan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi serta kementerian lain yang memayungi perguruan tinggi, dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan tinggi di tanah air.
Untuk itu, pengurus berharap peran aktif seluruh anggota dalam pelaksanaan agenda-agenda FDI sehingga keberadaan FDI dirasakan manfaatnya secara luas oleh civitas akademika perguruan tinggi di Indonesia. Informasi lebih lanjut seputar organisasi dan kegiatan FDI dapat diakses melalui website www.fdi.or.id atau kontak pengurus melalui email sekretariat[at]fdi.or.id.   

Senin, 24 Oktober 2016

Seminar Nasional FDI DPD Jatim

Pada tanggal 8-9 Desember mendatang, Forum Dosen Indonesia (FDI) DPD Jawa Timur akan melaksanakan seminar nasional sebagai agenda rutin tahunan FDI. Seminar nasional ini akan dilaksanakan di Universitas Widyagama Malang dengan tema "Rekonstruksi Peradaban Nusantara, Menghidupkan Kejayaan Majapahit". 

Pada waktu bersamaan juga akan dilaksanakan rapat kerja tahunan FDI untuk membahas program kerja tahun 2017 mendatang. Rapat kerja ini akan dihadiri oleh pengurus DPP FDI yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, juga utusan dari 11 DPD yang sudah terbentuk serta beberapa utusan provinsi yang akan segera membentuk DPD. 

Kami mengundang Bapak/Ibu dosen di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Informasi detail kegiatan dapat dilihat dalam poster berikut ini. 



Senin, 25 Juli 2016

Membangun Jejaring dan Sinergi Menuju Profesionalisme Dosen Indonesia




oleh Amril Arifin

Ada diskusi yang menarik dari Seminar Nasional dan Poster Ilmiah yang sekaligus Rakerda FDI DPD Sulawesi Selatan pada 15 September 2016 yang telah berjalan dengan sukses di Hotel Horizon Makassar. Seminar yang dibuka langsung oleh Bapak Gubernur Sulawesi Selatan: Dr. Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH yang sekaligus sebagai Keynote Speaker menitipkan peningkatan kualitas pendidikan di Sulawesi Selatan yang telah menjadi kota tujuan pendidikan di Indonesia Timur.
Diskusi terkait tentang bagaimana bersinergi juga menjadi salah satu poin, ada ungkapan Dosen itu orang pintar: satu kepala, satu opini dan satu pendapat, akan sulit menyatukan mereka. Belum lagi dengan marak dan berkembangnya Organisasi Dosen, yang jauh sebelumnya sudah ada ADI (Asosiasi Dosen Indonesia), ditambah dengan ADRI (Ahli-­‐ Dosen Republik Indonesia), dan Organisasi Dosen lainnya; serta disusul dengan Forum Dosen Indonesia atau FDI yang menjadi organisasi dosen yang terbilang baru.

Tentang Forum Dosen Indonesia

Berawal dari Diskusi Group Facebook yang dibentuk oleh Bapak Djoko Luknanto dengan Group Dosen Indonesia atau GDI pada tahun 2010, group ini memunculkan banyak diskusi baik terkait bidang ilmu atau topic yang trend seperti energi, maritim dan lainnya. Traffic group ini cukup ramai dengan berbagai diskusi bahkan perdebatan sengit, termasuk tentang ide pembentukan organisasi dosen. Pada akhirnya di 23-­‐24 Agustus 2013 melalui pertemuan di STSI Bandung terjadilah kesepakatan membentuk organisasi Forum Dosen Indonesia yang terbentuk secara legal dengan akta notaris pada tanggal 8 Januari 2014 di Bandung yang sekaligus mengukuhkan bahwa DPP FDI berkedudukan di Bandung.

Kerja keras Pengurus DPP melalui road show yang dilakukan oleh Sekjen Irma Sagala mengunjungi beberapa daerah, membuahkan FDI saat ini telah memiliki 11 DPD Se-­‐Indonesia; termasuk Sulawesi Selatan yang sejak awal telah ikut memprakarsai kelahiran Forum Dosen Indonesia. DPD Sulawesi Selatan sendiri mulai sah dilantik sekaligus penyerahan SK pada 23 Juli 2016, oleh Ketua Umum DPP FDI Gatut Rubiono.

FDI DPD Sulsel: Push of Power versus Push of Quality

Beberapa waktu setelah pelantikan pengurus, tentunya kerja harus dimulai, merumuskan draft program kerja menuju rapat kerja daerah adalah mutlak untuk setiap pengurus. Dalam proses itu beberapa media bahkan rekan-­‐rekan dosen sendiri sempat bertanya: apakah FDI akan memperjuangan kenaikan tunjangan dosen, yang kebetulan pada saat itu bertepatan dengan turunnya SK penghapusan uang makan bagi dosen DPK; pertanyaan lain adalah apakah ini ada hubungannya dengan akan mencalonkannya seorang Dosen pada Pilgub mendatang?.

Opini memang bebas untuk dikemukakan, namun dengan tegas kami sampaikan bahwa tidak hanya FDI DPD Sulsel, dari DPP FDI pun pastinya akan dengan tegas menyatakan bahwa FDI bukanlah Push of Power, apalagi melibatkan diri ke issu politis baik lokal seperti Pilgub maupun nasional. FDI akan tetap pada issu akademis yang sangat terkait dengan konsentrasi dan spesifikasi kelimuannya. Bahkan pada Aturan Organisasi FDI: Ketua dan jajaran Presidiumnya pun tidak diperbolehkan menduduki jabatan setingkat Rektor/Ketua atau Wakil Rektor/Ketua pada institusinya.


Jika Push of Power yang dimaksud adalah Push of Quality maka disitulah ranah dan jalur yang akan dilaluinya, arahnya sudah jelas. Bagi FDI Kualitas berada pada 4 level/tingkatan; pada level pertama adalah Kualitas dari Pendidikan itu sendiri; yang selanjutnya pada level kedua: Kualitas adalah Culture yang ditandai dengan menyatunya kualitas sebagai budaya; pada level selanjutnya Kualitas adalah Services, pada tingkatan ini setiap unsur jasa yang diberikan adalah kualitas; dan pada tingkatan yang paling paripurna Quality is a life; kualitas telah menjelma dalam kehidupan keseharian kita. Kualitas adalah pengejawantahan dari Profesionalisme, memikirkan tunjangan adalah sama dengan memikirkan dan bekerja untuk kualitas; jika kualitas telah menjadi culture, atau bahkan naik pada level yang paripurna, maka dengan sendirinya kita tidak pernah akan berpikir tentang tunjangan lagi, ia akan mengalir dengan sendirinya.

Membangun Jejaring dan Sinergi

Pada Era MEA jejaring pastinya akan sangat penting dan bernilai, Karena tanpa jejaring kita tidak akan pernah mampu memecahkan berbagai persoalan sendirian, dan bukankah kita memang selalu berhubungan dengan pihak lain?, hal ini Sunnatullah karena setiap dari kita memiliki keterbatasan. Dalam membangun jejaring dibutuhkan tekad yang kuat, keramahan, keterbukaan, ketekunan bahkan kesabaran untuk bisa mendengar dan berbagi. Jika ini terwujud melalui kolaborasi dan sinergi maka Insya Allah akan terbangun dan terpelihara sampai waktu yang tak terhingga.

Dunia Akademik juga tidak bisa sendiri, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi menghendaki keterlibatan Industri dan Pemerintah; bahkan dengan konsep Quadruple Helix yakni keterlibatan komunitas, dan Komunitas itu salah satunya adalah FDI. Issu tentang akan hilangnya berbagai profesi di masa mendatang adalah suatu kepastian, mendidik mahasiswa hari ini diibaratkan mempersiapkan atlet olimpiade masa depan, yang sama sekali belum diketahui akan berlaga pada cabang apa, sangat dramatis. Kondisi ini mengharuskan akademisi turun dan terlepas bebas dari menara gadingnya, dengan memahami dan mencermati trendwatching kemana arah industri untuk meramu kurikulum bak seorang chef professional. Dalam kondisi tersebut banyak Universitas yang mengundang industri untuk masuk ke perguruan tinggi; namun tentunya levelnya perlu ditingkatkan lagi, seperti komentar Bapak Ridwan Arif – Dirut Fajar Holding: dengan Universitas yang masuk ke Industri.

Pelaksanaan pengabdian masyarakat juga membutuhkan kolaborasi quadruple helix, dengan masih banyaknya daerah tertinggal, melalui desa binaan dari pemerintah, ataupun para industri, para akademisi akan menjadikannya sebagai ladang untuk pengabdian, baik itu pelaksanaan dan pengajaran hasil penelitian ataupun kerja sosial lainnya dalam membantu peningkatan UKM di daerah setempat, seperti pengajaran ilmu ekonomi dan akuntansi kepada komunitas pertanian, atau bahkan pelatihan aplikasi IT, bahkan dengan synergi quadruple helix para petani tidak perlu memikirkan pemasaran produk, karena ada industri yang siap pada jajaran jejaring dan kolaborasinya.

Pada tataran inilah quadruple helix yang keempat atau komunitas, tepatnya FDI DPD Sulsel akan bekerja untuk Sulawesi Selatan, banyak bukti seperti keberhasilan komunitas PHRI Yogyakarta yang rutin memperkenalkan DIY sebagai “Never Ending Asia” sampai ke Eropa dan Dunia, tentunya Pak Gubernur Sulawesi Selatan jangan kita biarkan bertarung sendiri menjual Sulawesi ke dunia international, tetapi peran FDI DPD Sulsel melalui synergi yang tak terhingga batas waktunya, ditambah niat dan keikhlasan semua pihak dalam jejaring dan synergi yang penuh keterbukaan untuk saling mendengar dan berbagi akan membuatnya semakin powerfull. Sekali lagi, mau menjadi sebatang lidi atau bergotong royong menjadi sapu lidi, There’s No Superman, yang ada hanya Super Team.

Terkait dengan keberadaan Organisasi Dosen lainnya, janganlah dianggap sebagai suatu perbedaan atau persaingan, justru sinergi dengan seluruh komunitas adalah penting, berbagi peran dalam mengusung issu juga adalah sinergi, bukankah masalah dan pemikiran para dosen begitu kompleks dan beragam, nah issu inilah yang akan kita lakoni dalam perannya masing-­‐masing. Sebagai Organisasi Dosen yang baru FDI akan banyak belajar terhadap para senior seperti ADI. Organisasi Dosen ini akan memainkan perannya masing-­‐ masing layaknya sebuah orkestra yang harmoni, tidak butuh dirigen, karena mereka bermain dengan ikhlas, bermain dengan hati.

Penutup

Rapat Kerja Daerah DPD Forum Dosen Indonesia Sulawesi Selatan telah selesai, saatnya untuk bekerja dan jangan pernah tinggalkan mimpi untuk membuatnya menjadi nyata. Terima Kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Makassar, Wakil Rektor Universitas Negeri Makassar, Wakil Rektor Universitas Muslim Indonesia, Dirut PT. Media Fajar Holding, DPP Forum Dosen Indonesia, Ketua Program Pasca STIE AMKOP, atas kehadirannya sebagai Pemateri dan Host pada Seminar Nasional dan Poster FDI DPD Sulawesi Selatan. Terima kasih pula kami sematkan kepada PT. Semen Tonasa, dan para Media: Fajar, Tribun, dan Media Online atas dukungan Sponsorship dan pemberitaan yang wacana yang kami sampaikan; Demikian pula kepada Steering Committee dari DPP FDI: Bapak Frederik, Bapak Hidayat Ely, Bapak Fitrah Jaya, dan Ibu Een Hardiani beserta Para Panitia dan Segenap Pengurus DPD FDI Sulsel.

Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengatakan jangan tanyakan bagaimana bentuk sinergi FDI DPD Sulawesi Selatan, maju terus dan berjalanlah, bahkan berlari, karena diperjalanan kita tidak akan pernah tau siapa yang akan kita temui untuk bersinergi bersama, dalam jangka waktu yang tak terhingga, dan tentu saja tetap dengan prinsip “push of quality”, dan bingkai pada ranah spesifikasi keilmuan. Menjadi dosen bukanlah sekedar profesi, ia adalah panggilan jiwa diselimuti keihklasan yang tak pernah didustai, sejauhmana kau berjalan, maka ia akan selalu menuntunmu kembali; selayaknya pula dalam bersinergi arahnya sudah jelas, jalurnya sudah terang, Insya Allah dengan “nawaitu” yang sama, Forum Dosen Indonesia DPD Sulawesi Selatan mengajak empat belas ribu Dosen di Sulawesi Selatan: Lets Fight for Quality, Bismillahirrahmanirrahim.

Sabtu, 07 Mei 2016

GIZI DAN PRODUKTIVITAS

Oleh: Laksmi Widajanti (Dosen Dept. Ilmu Gizi FKM UNDIP, email: laksmiwidajanti@gmail.com)

Peran gizi pada produktivitas kerja sudah dibuktikan di USA  oleh Berg and Muscat (October 21, 1971) dalam artikel ilmiah dengan judul “An approach to nutrition planning” yang dipersiapkan dan dipresentasikan di International Conference on Nutrition in Massachussets Institute of Technology, Cambridge, Massachussets dan dipublikasikan dalam Am J Clin Nutr-1972-Berg-939-54.pdf.
Di Indonesia, Ahli Gizi yang mendalami Produktivitas Kerja antara lain Suharjo (Alm) dengan judul Publikasi Disertasi : “Pengaruh Intervensi Besi Terhadap Pemetik Teh di Kabupaten Bandung,Provinsi Jawa Barat”. (http://repository.ipb. ac.id/ handle/ 123456789/1368). Darwin Karyadi (Alm) melakukan penelitian dengan judul :”Anemia Gizi Besi dan Produktivitas pada Pekerja Penoreh Karet di Jawa Barat” kerjasama dengan  Nevin Scrimshaw dari MIT dan World Bank serta dipublikasikan di Am J Clin Nutr-1979;32:916-25. Mahdin Anwar Husaini, melakukan penelitian “Suplementasi Zat Gizi pada Atlit Bulu Tangkis Muda untuk meningkatkan Ukuran Tubuh, Status Besi, dan Tampilan Fisik pada Tahun 1996/1997” didanai Technologies International, St. Louis, USA.    
Produktivitas kerja mengacu kepada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan adalah produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Hidup produktif secara sosial dimaksudkan sebagai kemampuan seseorang memberikan apa saja yang dimiliki baik itu ide, ilmu, pendampingan, mempermudah akses orang lain atau masyarakat untuk maju dan berkembang, jaringan, kerjasama, fasilitasi, perhatian, dukungan, kemudahan dan kecepatan pelayanan.  Berdasarkan sumberdaya spesifik lokal dan ditunjang teknologi tepat guna.
Hidup produktif secara ekonomis dimaksudkan kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu keuntungan atau uang, dan jasa, serta peluang untuk memperbesar keuntungan kepada diri maupun orang lain sesuai bidang kompetensi, profesionalisme, dan hobi serta kesenangan secara halal sehingga meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dan bangsa.
     Secara skematik dapat dijelaskan peran gizi dalam peningkatan produktivitas sosial dan ekonomis seseorang individu, keluarga, dan masyarakat dimulai dari konsumsi pangan dan gizi yang terkandung : kehalalan pangan, keamanan pangan, keragaman pangan, kecukupan gizi, dan mutu gizi (Gambar 1).


Gambar 1. Hubungan Konsumsi Gizi dengan Produktivitas
               Kerja Seseorang dan Masyarakat

     Seseorang yang mengkonsumsi pangan didasarkan pada pemenuhan kebutuhan sensoris agar tidak lapar.  Meskipun dibalik itu bagi mereka yang sadar akan gizi dan kesehatan serta bagi Muslim hal pertama kali yang dipertimbangkan adalah kehalalan, kemudian keamanan, keragaman pilihan pangan yang dikonsumsi, serta mutu gizi pangan apakah berasal dari bahan alami, nabati, hewani. Mutu gizi menentukan absorbsi dan metabolisme zat-zat gizi yang optimum di dalam tubuh.  Secara umum pangan hewani memiliki tingkat absorbsi gizi yang lebih baik dari pangan nabati.
Sajogjo pada Tahun 1977 membuat dasar kemiskinan dinamakan  “Garis Kemiskinan Sajogyo”.  Kelompok  miskin adalah rumah tangga yang mengkonsumsi pangan kurang dari nilai tukar 240 kg beras setahun perkepala di pedesaan atau 369 kg di perkotaan setara 2100  kkal atau sekitar 550 gram (0,5 kg) beras mutu sedang perorang perhari. Hal ini bila berlaku asumsi 100 % konsumsi sumber energi dari karbohidrat dipenuhi dari beras.
     Produktivitas kerja menjadi pembahasan penting dalam pengembangan kualitas sumberdaya manusia, karena menurut Wanjek (2005) dari International Labour Organisation (ILO) faktor Gizi menjadi salah penentu kualitas Sumberdaya manusia dan pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas produktivitas bangsa sebagai daya ungkit untuk memenangkan persaingan global (Gambar 2).


Gambar 2. Lingkaran Gizi Kurang dengan Produktivitas Nasional
             (Wanjek, 2005)


Memberikan jaminan minimal hidup layak kepada dosen memberikan kesempatan dosen untuk membelanjakan uang dan pendapatan bagi diri dan keluarganya disertai pengetahuan yang cukup tentang gizi untuk menjamin kesehatan diri dan keluarganya untuk hidup produktif sebuah solusi cerdas bagi pengembangan sumberdaya kesehatan dosen.

Agenda ke Depan

Agenda ke Depan